5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda: Drone Termal dan 3 KRI Dikerahkan, Pencarian Hari Ketiga Masih Nihil
Kronologi Hilangnya 5 Jurnalis Peliput Anak Krakatau di Selat Sunda
YUDHABJNUGROHO™ - Rombongan delapan orang — terdiri dari dua awak kapal, satu pemandu, dan lima jurnalis — bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menggunakan speedboat. Tujuannya jelas: mendokumentasikan aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang kembali erupsi sejak awal September. Pukul 14.42 WIB, salah satu jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi terakhir kepada rekannya di Lampung. Namun komunikasi terputus total sekitar pukul 15.04 WIB, di koordinat yang diduga berada di 6°14'40.52"S, 105°40'49.48"T — persis di antara Carita dan kaki Gunung Anak Krakatau.
Informasi terakhir yang berhasil dihimpun tim SAR datang dari istri sang pemandu kapal, yang menyebut rombongan masih berada di sekitar Anak Krakatau pada pukul 18.13 WIB, lengkap dengan foto yang memperlihatkan kondisi gunung terlihat jelas dari kapal. Setelah itu, jejak mereka menghilang sepenuhnya.
📌 Baca Juga : Abu Vulkanik Anak Krakatau Lumpuhkan Penerbangan: Pelajaran Pahit dari Insiden British Airways 1982
Siapa Saja Jurnalis yang Hilang Kontak di Perairan Pandeglang Banten?
Basarnas Banten mengonfirmasi lima jurnalis yang hilang adalah M Bagus Khoirunnas (pewarta foto LKBN ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi alias Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas). Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan foto bersama rekan-rekannya kepada istrinya, Desi Purnamasari — foto yang kini menjadi salah satu jejak digital terakhir sebelum kontak terputus. Kelima nama ini mewakili empat institusi media berbeda, sebuah fakta yang membuat isu ini bergema luas di kalangan komunitas jurnalis nasional, bukan sekadar berita kecelakaan biasa.
Upaya Pencarian Tim SAR Gabungan: Drone Termal hingga 3 Kapal Perang TNI AL
Operasi pencarian memasuki hari ketiga dengan eskalasi signifikan. Pada hari pertama, tim SAR menyisir perairan hingga Pulau Krakatau dan Pulau Panjang tanpa hasil. Cuaca buruk dan gelombang tinggi bahkan sempat memaksa pencarian dihentikan sementara. Memasuki hari kedua, Basarnas Banten membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas cakupan, dengan lima kapal — KN SAR Tetuka, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KP Sanjaya 7016 milik Polairud Mabes Polri — menyisir area seluas 271 nautical mile.
Eskalasi berlanjut pada hari ketiga ketika TNI AL resmi mengerahkan tiga kapal perang: KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861, memperkuat unsur Lanal Banten dan Lanal Lampung yang sudah lebih dulu bergerak. Dua drone thermal turut disiapkan untuk mendeteksi keberadaan speedboat maupun sinyal panas tubuh di tengah gelapnya malam laut Selat Sunda. Meski demikian, hingga tulisan ini diturunkan, belum ada tanda-tanda keberadaan kedelapan orang tersebut.
📌 Baca Juga : Status Darurat Diteken, Asap Karhutla Kalteng Tak Kunjung Reda — Kaltim Ikut Terjerat ISPA
Risiko Liputan Bencana Alam yang Sering Diabaikan Media di Indonesia
Kasus ini kembali membuka diskusi lama yang jarang tuntas: standar keselamatan jurnalis saat meliput bencana alam di lapangan, terutama di zona berbahaya seperti perairan dekat gunung berapi aktif. Erupsi Anak Krakatau yang terus berlangsung sejak awal September memang menjadi magnet liputan — sayangnya, minim di antara media yang benar-benar menerapkan protokol keselamatan ketat bagi kru lapangan, mulai dari alat komunikasi darurat, pelampung standar, hingga batas jarak aman dari titik erupsi. Ironisnya, dampak abu vulkanik dari letusan yang sama sempat memaksa sekolah-sekolah di Jabodetabek menerapkan pembelajaran jarak jauh, sebagaimana pernah diulas dalam artikel PJJ Abu Vulkanik Anak Krakatau Usai di Jakarta — menunjukkan betapa luasnya radius bahaya yang ditimbulkan gunung ini terhadap aktivitas manusia di daratan, apalagi bagi mereka yang justru mendekat ke sumber erupsi.
Skenario terburuk dari erupsi berkelanjutan ini sebetulnya sudah diperingatkan sejak awal pekan, seperti dibahas dalam laporan Erupsi Anak Krakatau Terus Berlanjut: Skenario Terburuk yang Perlu Diwaspadai. Namun peringatan itu tampaknya belum cukup menjangkau kru lapangan yang bertugas mendokumentasikan langsung fenomena alam tersebut dari jarak dekat.
Situasi ini juga mengingatkan bahwa bencana alam di Indonesia, dari erupsi gunung berapi hingga kabut asap yang bahkan pernah mencemari langit Manila, selalu menyisakan korban yang tidak terduga — bukan hanya warga terdampak langsung, tapi juga para pekerja media yang berjibaku mendokumentasikan setiap perkembangannya demi kepentingan publik.
📌 Baca Juga : Rp103 Triliun Melayang: Ongkos Tersembunyi di Balik Asap Karhutla dan Orangutan yang Sesak Napas
Catatan Redaksi
Di balik setiap foto dramatis erupsi gunung berapi yang tersaji di linimasa kita, ada nyawa jurnalis yang dipertaruhkan untuk mengabadikannya. Ketika negara sibuk mengukur skala bencana alam, sudahkah ada yang benar-benar menghitung risiko yang ditanggung mereka yang meliputnya? Kita menunggu kabar baik dari Selat Sunda — sembari bertanya, protokol keselamatan macam apa yang seharusnya ada sebelum tragedi seperti ini terulang kembali.
Tags ; jurnalis hilang, Selat Sunda, Anak Krakatau, Basarnas, TNI AL, Pandeglang Banten, SAR jurnalis, kecelakaan laut 2026
© yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.