Header Ads

  • Breaking News

    Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Putin di Vladivostok, saat Asap Karhutla dan Reruntuhan Gempa Masih Menyelimuti Negeri

    Presiden Rusia Vladimir Putin, tuan rumah Eastern Economic Forum Vladivostok yang mengundang Presiden Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan utama.
    | Foto : x.com / [@Kanthan2030] / CC BY-SA.

    Sementara delegasi presiden disambut karpet merah di Vladivostok, ribuan warga Kalimantan masih bernapas di balik masker menembus kabut asap, korban gempa NTT masih menghitung hari di tenda pengungsian, dan penumpang terdampar di bandara akibat abu vulkanik Sinabung. Mengapa panggung diplomasi dipilih justru di tengah tumpukan krisis dalam negeri?


    Karpet Merah di Timur Jauh Rusia

    YUDHABJNUGROHO™ - Presiden Prabowo Subianto bertolak dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pada Selasa malam, 1 September 2026, menuju Vladivostok untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 sebagai tamu kehormatan utama — undangan langsung dari Presiden Vladimir Putin. Forum yang berlangsung di Far Eastern Federal University ini turut dihadiri sejumlah pemimpin dunia lain, termasuk PM Mongolia dan Wakil PM China. Ini adalah kali kedua Prabowo diundang khusus ke forum ekonomi internasional Rusia, setelah tahun lalu tampil di St. Petersburg International Economic Forum.

    Dalam pernyataan resminya, Putin memuji "kemajuan ekonomi dan sosial" Indonesia serta menegaskan hubungan Moskow-Jakarta yang terus "berkembang sangat baik". Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut lawatan ini mencerminkan posisi strategis Indonesia di mata Rusia — sebagai mitra utama Asia-Pasifik sekaligus representasi Global South.


    📌 Baca Juga : Ketika Ormas Turun ke Jalan: Polemik GRIB Jaya dan Batas Wewenang Kamtibmas Usai Demo 27 Agustus


     

    Negeri yang Ditinggalkan Sedang Terbakar dan Berguncang

    Namun di saat yang sama, situasi domestik jauh dari kata tenang. Kabut asap karhutla masih mengepung Kalimantan hingga memaksa sekolah beralih ke pembelajaran daring — kondisi yang sudah dibahas tuntas dalam laporan kabut asap yang melumpuhkan ruang kelas di Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, kasus ISPA akibat asap bahkan telah menembus angka puluhan ribu penderita.

    Sementara itu, dampak gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT belum sepenuhnya pulih — 111 orang tercatat meninggal dunia dan ribuan pengungsi masih bertahan di posko darurat, bahkan warga di sejumlah desa terisolir baru menerima bantuan sembako pekan ini. Gempa lain, meski lebih kecil berkekuatan Magnitudo 4,3, turut mengguncang Cianjur pada 1 September — cukup membuat warga berhamburan keluar rumah, sekalipun BMKG memastikan belum ada laporan kerusakan berarti.

    Di Sumatera Utara, erupsi Gunung Sinabung yang naik status dari Waspada ke Siaga sejak akhir Agustus melumpuhkan puluhan penerbangan di Bandara Kualanamu — setidaknya 55 penerbangan dibatalkan dalam sehari, mengganggu ribuan penumpang termasuk rute dari dan menuju Jakarta. Kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter bahkan sempat menyelimuti permukiman warga di Berastagi dan kawasan Gunung Sibayak, memaksa aktivitas belajar-mengajar di sejumlah sekolah terhenti sementara.

    Tiga bencana ini — asap karbon dari hutan yang terbakar, tanah yang bergetar di dua provinsi berbeda, dan gunung yang memuntahkan abu — terjadi nyaris bersamaan dalam rentang waktu kurang dari sepekan. Bagi warga terdampak, ini bukan sekadar statistik di layar televisi, melainkan realitas harian yang mengubah rutinitas: sekolah diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan rumah sakit dipadati pasien gangguan pernapasan.


    📌 Baca Juga : Cicak versus Buaya Jilid Baru? Membongkar Rebutan Kewenangan Kejagung-Polri di Balik Kasus Febrie Adriansyah


     

    Diplomasi Ekonomi vs Kepemimpinan Krisis

    Bagi sebagian pengamat, kehadiran presiden di forum internasional bukan hal keliru — diplomasi ekonomi tetap penting untuk menarik investasi dan memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global, apalagi delegasi turut membawa menteri-menteri kunci seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Namun publik berhak mempertanyakan skala prioritas: mengapa penanganan krisis multibencana di dalam negeri seolah berjalan di jalur terpisah, tanpa kehadiran simbolik kepala negara di titik-titik terdampak?

    Ironi ini makin terasa mengingat rentetan krisis domestik ini muncul beriringan dengan gejolak ekonomi yang juga tengah diuji, sebagaimana tergambar dalam dinamika pergantian kepemimpinan Bank Indonesia di tengah tekanan rupiah yang belum mereda — sebuah pengingat bahwa stabilitas domestik dan citra diplomatik luar negeri sesungguhnya dua sisi mata uang yang sama.


    Ketika Panggung Dunia dan Panggung Dalam Negeri Berjalan Beriringan

    Pemerintah tentu punya mekanisme delegasi — wakil presiden, menteri koordinator, dan kepala BNPB tetap menjalankan fungsi masing-masing menangani bencana selama presiden bertugas di luar negeri. Namun secara politik-komunikasi, ketimpangan sorotan media antara "presiden disambut Putin" versus "warga Kalimantan bernapas di balik asap" berpotensi memunculkan persepsi keliru soal keberpihakan negara.

    Ketegangan serupa juga tampak dalam bagaimana negara meresponi krisis kepercayaan di ranah domestik, sebagaimana yang mengemuka dalam rangkaian tuntutan massa aksi 27 Agustus yang hingga kini masih menggantung tanpa kejelasan tindak lanjut DPR — pola yang sama di mana persepsi publik tentang prioritas negara menjadi taruhan besar bagi legitimasi pemerintahan.


    📌 Baca Juga : Rp476 Miliar Tunai, 74 Kilogram Emas, dan Uang Rp40 Miliar dari Tan Kian: Bongkar Jejak Harta Eks Jampidsus Febrie Adriansyah


    Catatan Redaksi

    Diplomasi memang butuh panggung, dan panggung Vladivostok jelas bukan sembarang forum. Tetapi kepemimpinan sejati diuji bukan hanya lewat jabat tangan dengan kepala negara asing, melainkan lewat seberapa dekat negara hadir bagi rakyatnya yang sedang berjuang melawan asap, reruntuhan, dan abu vulkanik. Pertanyaannya kini kembali ke kita: apakah kita akan menilai keberhasilan sebuah kunjungan kenegaraan semata dari sambutan karpet merah di negeri orang, atau dari seberapa cepat penderitaan di kampung halaman sendiri benar-benar terurai?


    Tags ; Prabowo Subianto, Eastern Economic Forum, Vladivostok, Putin, Karhutla Kalimantan, Gempa NTT, Erupsi Sinabung, Gempa Cianjur, Diplomasi, Bencana


    © yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik | 

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ⚠️

    Adblock Terdeteksi!

    Untuk tetap menyajikan hasil investigasi jurnalistik dan opini independen secara gratis, situs kami sangat bergantung pada penayangan iklan yang aman. Mohon nonaktifkan pemblokir iklan Anda dan muat ulang halaman ini untuk melanjutkan membaca. Terima kasih atas dukungan Anda terhadap literasi digital.