Simalakama Remisi Asimilasi dan Kartu Pra Kerja - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Simalakama Remisi Asimilasi dan Kartu Pra Kerja



        Pemerintah baru – baru ini mengeluarkan kebijakan yang mengejutkan ditengah merebaknya pandemi Corona (Covid19), yaitu remisi asimilasi dengan sedikit ‘melonggarkan’ ruang lembaga permasyarakatan (lapas) melalui pembebasan sebagian narapidana (napi)-nya.
    Gambar 1 : Seorang mantan Napi yang mendapat remisi asimilasi, bertemu keluarganya (Sumber : https://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/600x350-2/1586348790.jpg)

        Kebijakan ini ditengarai untuk mencegah semakin bertambahnya orang terjangkit akibat berkerumunnya massa di satu tempat. Seperti kita ketahui, lapas penuh dan sesak sudah jamak diberitakan di negeri ini. Kapasitas daya tampung lapas, tidak sebanding dengan jumlah napi yang dibina didalamnya.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">


    Baca Juga : Nepotisme Terkuak Pasca Pandemi Merebak

        Dilansir dari berita yang dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), napi yang mendapatkan remisi asimilasi hanya terbatas pada tahanan pidana umum dan meresahkan masyarakat, seperti pencuri, pencemaran nama baik, dan pemakai narkoba.
        Selain itu faktor umur napi pun menjadi kriteria, karena umur yang semakin lanjut berpengaruh terhadap faktor penularan Covid19 yang semakin rentan. Kebijakan ini sempat menimbulkan pro dan kontra kala pemerintah juga merencanakan hal demikian pada napi korupsi, meskipun akhirnya kebijakan ini diurungkan.
        Banyak napi menyambut gembira terkait dengan kebijakan remisi asimilasi ini. Bertemu keluarga yang selama ini dirindukanpun menjadi momen mengharukan di pintu lapas. Karena sebagian dari mereka berharap bulan Ramadhan yang sebentar lagi ini dapat mereka habiskan ditengah kehangatan keluarga.
        Namun berita negatifpun muncul teriring dengan kebijakan remisi asimilasi ini. Kabar kejahatan kembali muncul, ditengah masyarakat mulai patuh untuk membatasi diri dalam berpergian dan berkeliaran.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

    Memanfaatkan kesempatan perkampungan yang sepi dan minim masyarakat keluar rumah, penjambretan dan perampokan marak terjadi, dan mirisnya banyak diberitakan pelakunya adalah mantan napi asimilasi.
    Penulis menduga, faktor kebutuhan hidup masih menjadi alasan utama mereka kembali melakukan kejahatan. Apalagi ditengah lesunya perekonomian akibat terdampak pembatasan kegiatan diluar rumah dan dirumahkannya banyak pegawai. Alasan lain yang diduga kuat adalah, mereka belum merasakan mencapai titik jenuh didalam penjara, karena mereka dibebaskan sebelum masa tahanannya berakhir.
    Jika seseorang sudah merasakan jenuhnya berada di suatu tempat tanpa bisa melakukan hal yang ia inginkan secara bebas, tentulah ia berusaha untuk tidak kembali ke tempat tersebut. Nah, para napi asimilasi yang kembali melakukan kejahatan, mungkin di dalam penjara, baru merasakan ‘ramai’ nya dan ia nyaman dengan itu.
    Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Kemenkumham yang sebelumnya getol sekali dengan alasan kemanusiaan. Sampai – sampai di masyarakat terdapat seloroh ‘sengaja melepaskan napi agar masyarakat takut dan tetap dirumah saja’.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

    Semoga ini tidak menjadi blunder kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, yang entah kapan ‘seperti biasa’ akan direvisi.
    Selain itu, ditengah pandemi Covid19 ini pemerintah sudah memastikan berlangsungnya program Kartu Pra Kerja, yang menyasar para pekerja yang kehilangan mata pencaharian akibat terdampak Covid19 ini, serta seseorang yang memang belum mendapatkan pekerjaan.
    Gambar 2 : Infografis Kartu Pra Kerja. Ilustrasi. (Sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEj-jt7A1Bca6pZlr3hZvpaQAkO6E8UaEBBv3oQb7uEatn5635VOtFE8NWpaX19L9i88gYaoapGDkwVRaI9Ez715Rxv1uyeTUz7uhtCZ9EC8sMKDMG_RoBDq_A7IlI7f47YcC7BdAGham5rfLTmtl8AmerY6-m1RA4BfminEGSJy-UQa1e7vDedyPVZMHD_MA8m-6vWSJY9rC9G5Ck2TPCYlCGRqgVbqTLB4i4JQLIgSM6vv7WYk2I7ORuaXy7mPK1g=)

    Sejak awal diluncurkan secara resmi melalui laman www.prakerja.co.id , pendaftar pun mengalir bak semut yang mengerubungi gula. Ini menunjukkan jika masyarakat sangat mengharapkan stimulasi ini ditengah kondisi ekonomi saat ini yang tak menentu.

    Baca Juga : Kucuran Dana Ditengah Pandemi

    Sejatinya program Kartu Pra Kerja ini dijalankan bukan karena pandemi Covid19 ini, melainkan kondisi normal dan ekonomi stabil. Sehingga sasaran penerima stimulus akan tepat, juga tidak membeludaknya pendaftar sebab tetap adanya orang yang masih bekerja.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

    Jika dalam kondisi seperti ini, tentu stimulus yang akan diterima oleh masyarakat anggota Kartu Pra Kerja akan bias. Pendaftar tentu kan lebih banyak dari masyarakat kota, yang terdampak pengurangan, padahal pandemi Covid19 merebak hingga ke pelosok desa, sehingga jika dibayangkan persebaran keanggotaan ini tidak akan merata.
    Berikutnya tentang proses penerima stimulusnya, karena banyaknya pendaftar Kartu Pra Kerja ini, pemerintah mengubah skema penerima bantuannya, menjadi sistem acak komputerisasi. Metode yang dijalankan menunjukkan ketidakpastian penerima, karena semua ditentukan dengan sistem undi.
    Kalau merujuk pada teori peluang matematika, masyarakat perkotaanlah yang lebih berkesempatan menerima karena dilihat dari persebaran demografi pendaftar, meskipun sistem acak yang dipergunakan.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

    Diluar dari perkiraan dan teori Penulis, semoga wabah pandemi Covid19 ini segera berlalu, agar kehidupan kembali normal seperti biasa. Tanpa kita sadari, pandemi Covid19 ini membuat masyarakat perlahan kehilangan kebiasaan ramah dan senyum pada siapapun meskipun orang yang tidak dikenali.
    Semua berubah menjadi perasaan takut dan curiga.
    ------------------
    Schrijver.
    2020. Copyright ©. Yudha BJ Nugroho. All Right Reserved.


    No comments

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad