Sindiran Tajam Presiden Suriah ke Trump: "Kasih Saja New Jersey ke Israel, Bukan Golan"
![]() |
| Foto arsip Sidang Majelis Umum PBB di New York. | Foto : x.com / [@XHIndonesia] / CC BY-SA. |
Dari Panggung PBB, Sindiran yang Tak Biasa untuk Sekutu Baru
YUDHABJNUGROHO™ - Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa melontarkan pernyataan yang mengejutkan banyak pengamat diplomasi Timur Tengah pekan ini. Merespons pengakuan resmi Amerika Serikat pada 2019 atas kedaulatan Israel terhadap Dataran Tinggi Golan, al-Sharaa balik bertanya kepada lembaga pemikir Atlantic Council: "Mengapa Anda tidak memberikan New Jersey kepada Israel? Anda tidak berhak memberikan Dataran Tinggi Golan kepada mereka, sebaliknya Anda punya New Jersey."
Pernyataan bernada satir ini disampaikan tak lama setelah al-Sharaa berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum PBB di New York, Rabu (23/9/2026), di mana ia menegaskan sikap resmi Suriah: Dataran Tinggi Golan akan tetap menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Suriah, dan setiap upaya yang melanggar hal itu "akan dihentikan". Yang menarik, dalam forum yang sama, al-Sharaa juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berseloroh serupa langsung kepada Trump dalam pertemuan tatap muka di New York — menandakan sindiran ini bukan sekali ucap, melainkan pesan yang sengaja diulang di berbagai kesempatan.
📌 Baca Juga : Sanksi Maskapai Iran 2026: AS Setop Penerbangan Global, RI Ikut Terguncang?
Mengapa Isu Golan Selalu Menjadi Bara dalam Sekam?
Untuk memahami mengapa satu wilayah kecil ini terus memicu ketegangan diplomatik selama puluhan tahun, perlu ditarik mundur ke akar sejarahnya. Dataran Tinggi Golan mulanya merupakan bagian sah dari wilayah Suriah, hingga Israel menduduki sebagian besar kawasan tersebut dalam Perang Enam Hari pada 1967. Israel kemudian secara sepihak memberlakukan hukum dan administrasinya di Golan pada 1981 — langkah yang oleh Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 497 dinyatakan tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum internasional.
Meski demikian, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump pada 2019 memilih jalan berbeda dari konsensus internasional dengan secara resmi mengakui kedaulatan Israel atas wilayah tersebut. Keputusan itulah yang hingga kini terus menjadi ganjalan dalam setiap upaya normalisasi hubungan Suriah pascarevolusi dengan Washington, termasuk di tengah hubungan yang belakangan justru menghangat setelah Trump mencabut sejumlah sanksi ekonomi terhadap Suriah.
📌 Baca Juga : Serangan Drone Ukraina ke Moskow: Kilang Terbakar, Harga BBM RI Terancam?
Diplomasi Bercanda di Tengah Hubungan yang Rapuh
Ironi terbesar dari sindiran ini justru terletak pada konteksnya: al-Sharaa melontarkannya di tengah hubungan yang tengah ia bangun hati-hati dengan Trump, sosok yang ia sendiri sebut sebagai pihak yang "berpihak pada Suriah" dan mengambil "keputusan bersejarah" mencabut sanksi terhadap negaranya. Menyindir sekutu baru soal isu sesensitif Golan berisiko mengganggu momentum pemulihan hubungan bilateral yang baru seumur jagung, terutama karena Suriah pascakejatuhan rezim lama masih sangat bergantung pada dukungan internasional untuk pemulihan ekonomi.
Namun di sisi lain, al-Sharaa juga menghadapi tekanan domestik untuk tidak terlihat lunak soal kedaulatan wilayah, mengingat isu Golan memiliki muatan emosional dan nasionalistik yang kuat bagi rakyat Suriah. Sindiran bernada humor ini bisa dibaca sebagai jalan tengah diplomatik: menyampaikan penolakan tegas tanpa harus mengonfrontasi Trump secara langsung dan frontal, sembari tetap menjaga hubungan baik yang tengah dibangun kedua negara.
Isu ketegangan geopolitik yang bersinggungan dengan kepentingan ekonomi kawasan ini mengingatkan pada dinamika serupa yang sempat kami ulas. Baca juga rangkuman kami soal dampak konflik Amerika Serikat-Iran terhadap Selat Hormuz dan harga bahan bakar di Indonesia, yang menunjukkan bagaimana ketegangan geopolitik Timur Tengah kerap merembet hingga ke dompet masyarakat di kawasan yang jauh dari pusat konfliknya.
Suriah Belum Siap Berunding Tanpa Prasyarat Jelas
Di luar sindiran soal New Jersey, sikap resmi Damaskus terhadap Israel tetap keras kepala pada satu poin: pemerintah Suriah belum bersedia duduk berunding sebelum Israel memenuhi persyaratan Perjanjian Pelepasan 1974, perjanjian yang mengatur zona pemisahan pasukan di sekitar Golan pascaPerang Yom Kippur. Sikap ini disampaikan melalui saluran televisi resmi Suriah, Al-Ikhbaria, menegaskan bahwa di balik nada bercanda al-Sharaa terhadap Trump, garis merah kebijakan luar negeri Suriah soal Golan tidak bergeser sedikit pun.
Al-Sharaa turut mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mengupayakan kesepakatan keamanan dengan Israel yang melibatkan sejumlah negara lain, dengan harapan hal ini bisa membuka jalan menuju perdamaian kawasan yang lebih komprehensif — namun ia berulang kali menegaskan bahwa upaya tersebut tidak akan mengorbankan klaim Suriah atas Golan. Pendekatan dua jalur ini — tegas soal kedaulatan wilayah, namun tetap membuka pintu diplomasi keamanan — mencerminkan kalkulasi politik luar negeri yang hati-hati dari pemerintahan baru Suriah yang masih dalam masa transisi pascaperang saudara panjang.
📌 Baca Juga : Gugatan Ijazah Gibran di MK: KPU Berkilah Bukan Ranahnya, Benarkah Syarat Pendidikan Wapres RI Bermasalah?
Catatan Redaksi
Sindiran soal New Jersey mungkin terdengar ringan di telinga publik yang mengikutinya sebagai potongan berita viral, tetapi di baliknya tersimpan pesan diplomatik yang jauh lebih serius: Suriah tidak akan menyerahkan klaim historisnya atas Golan, sekeras apa pun tekanan dari sekutu barunya. Pertanyaannya kini, sampai kapan pendekatan "bercanda tapi serius" ini bisa dipertahankan sebelum salah satu pihak dipaksa mengambil sikap yang lebih tegas? Pembaca yang mengikuti dinamika Timur Tengah tentu tahu, di kawasan ini, humor diplomatik sering kali menjadi bahasa pertama sebelum ketegangan sesungguhnya muncul ke permukaan.
Tags ; Suriah, Ahmed al-Sharaa, Dataran Tinggi Golan, Israel, Donald Trump, Internasional
© yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.