Header Ads

  • Breaking News

    Pertamax Bisa Tembus Rp20.000, Ini Alasan di Balik Ancaman Kenaikan Harga BBM

    Antrian pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di berbagai daerah, sebagai dampak kenaikan harga serta pembatasan kuota pembelian akibat ekskalasi tegang di Timur Tengah.
    | Foto : x.com / [@Humasresmajene] / CC BY-SA.

    Bayangkan mengisi penuh tangki motor dengan harga hampir dua kali lipat dari sekarang. Skenario itu bukan lagi ketakutan berlebihan — Pertamina sendiri yang mengingatkannya secara terbuka pekan ini. Apa sebenarnya yang terjadi jauh di Selat Hormuz hingga bisa memaksa harga bensin di Indonesia melonjak drastis dalam hitungan minggu ke depan?


    Kenapa Harga Pertamax Bisa Naik Drastis di 2026?

    YUDHABJNUGROHO™ - Peringatan itu datang langsung dari Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, yang berbicara blak-blakan dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jumat (11/9/2026). Menurutnya, jika harga minyak dunia tidak kunjung turun ke kisaran US$60-70 per barel seperti sebelum krisis geopolitik meletus, harga Pertamax dan bahan bakar sejenis berpotensi bertengger di rentang Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Ini bukan proyeksi liar tanpa dasar — Kementerian ESDM baru saja menetapkan Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$89,43 per barel untuk Agustus 2026, melonjak dari US$81,68 pada bulan sebelumnya. Tren ini konsisten naik sejak pertengahan tahun, dan tak ada tanda-tanda akan berbalik arah dalam waktu dekat.

    Yang membuat situasi ini berbeda dari gejolak harga minyak biasa adalah sumber masalahnya: bukan sekadar permintaan-penawaran pasar, melainkan konflik bersenjata yang mengunci salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.


    📌 Baca Juga : 50 Kali ke Luar Negeri: Diplomasi Prabowo Antara Podium Dunia dan Realita Domestik


    Selat Hormuz dan Jalur Minyak Dunia yang Terganggu

    Selat Hormuz adalah titik tersempit di Teluk Persia, hanya sekitar 33 kilometer lebarnya di bagian paling sempit, namun menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak mentah global. Sejak konflik AS-Iran kembali memanas akhir Agustus lalu, lalu lintas kapal tanker di jalur ini anjlok tajam — dari sekitar 8-9 juta barel per hari menjadi kurang dari 2 juta barel per hari. Iran mengklaim telah menyerang sepuluh kapal di sekitar selat tersebut, sebagai balasan atas serangan AS terhadap lima tanker Iran. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran turut memperkeruh keadaan dengan mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman, mengancam jalur pelayaran alternatif via Laut Merah.

    Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 6 persen dalam sehari pada Kamis (10/9/2026), menembus US$107,63 per barel — level tertinggi sejak Mei. West Texas Intermediate (WTI) ikut terkerek 6,69 persen ke US$102,48 per barel. Ini bukan kenaikan biasa; ini adalah sinyal bahwa pasar energi dunia sedang dalam mode kepanikan penuh.


    Dampak Kenaikan Harga BBM ke Ekonomi Rumah Tangga Indonesia

    Bagi rumah tangga kelas menengah yang menggantungkan mobilitas harian pada motor atau mobil pribadi, kenaikan harga Pertamax dari kisaran Rp13.000-an menuju Rp20.000 bukan angka kecil — ini bisa berarti tambahan pengeluaran ratusan ribu rupiah per bulan hanya untuk bahan bakar. Efeknya pun tak berhenti di situ. Kenaikan biaya logistik dan transportasi barang berpotensi merembet ke harga kebutuhan pokok lainnya, menciptakan efek domino inflasi yang lebih luas.

    Di sisi fiskal negara, beban ini juga tak main-main. Kementerian Keuangan memperkirakan setiap kenaikan harga minyak Indonesia sebesar US$1 per barel dapat menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan negara dari sektor migas hanya sekitar Rp3,5 triliun. Artinya, setiap dolar kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun — dan APBN 2026 sendiri disusun dengan asumsi ICP hanya US$70 per barel, jauh di bawah realisasi saat ini.

    Kalangan pengemudi ojek daring dan sopir angkutan umum kemungkinan menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya, mengingat biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar dalam struktur pendapatan harian mereka. Jika harga BBM nonsubsidi ikut terkerek mengikuti tren Pertamax, sementara pendapatan tidak serta-merta menyesuaikan, maka margin keuntungan mereka akan tergerus signifikan. Pelaku usaha logistik dan UMKM yang mengandalkan distribusi barang jarak jauh juga menghadapi risiko serupa, yang pada akhirnya bisa diteruskan ke harga jual produk di tingkat konsumen akhir.


    📌 Baca Juga : Perang Kapal Tanker di Selat Hormuz: Kenapa Rupiah dan IHSG Ikut Terguncang?


    Bagaimana Pemerintah dan Pertamina Merespons Ancaman Ini?

    Pertamina menyebut situasi konflik Timur Tengah kali ini bahkan lebih pelik dibandingkan perang Rusia-Ukraina, karena menyangkut jalur distribusi minyak langsung, bukan sekadar sanksi ekonomi. Eko Ricky Susanto menegaskan pihaknya berharap tensi geopolitik segera mereda, namun mengakui belum ada sinyal kuat ke arah sana. Pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat: menahan harga BBM bersubsidi dengan risiko menggerus ruang fiskal untuk program prioritas lain, atau menyesuaikan harga di tingkat konsumen dengan risiko memicu gejolak sosial dan inflasi yang lebih tajam.

    Sementara itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah turut memperparah kalkulasi. Kebutuhan dolar AS yang melonjak untuk membiayai impor energi membuat rupiah semakin tertekan, yang pada gilirannya membuat biaya impor minyak dalam denominasi rupiah menjadi lebih mahal lagi — sebuah lingkaran setan yang sulit diputus tanpa redanya konflik di kawasan Teluk.


    📌 Baca Juga : IHSG Uji Level 6.700 dan Rupiah Menguat: Benarkah Cadangan Devisa RI Mampu Redam Guncangan Selat Hormuz?


    Catatan Redaksi

    Krisis di Selat Hormuz mungkin terasa jauh dari keseharian kita, tapi angka di layar SPBU adalah bukti betapa dekatnya geopolitik dunia dengan dompet rakyat kecil. Ketika satu keputusan militer di ujung Teluk Persia bisa menentukan berapa rupiah yang harus kita keluarkan untuk mengisi bensin, pertanyaannya bukan lagi "apakah ini akan berdampak ke kita", melainkan "seberapa siap kita menghadapinya". Redaksi mengajak pembaca untuk mulai mempertimbangkan efisiensi konsumsi energi sebagai langkah antisipatif, sembari terus mengikuti perkembangan kebijakan energi nasional dalam beberapa minggu ke depan.


    Tags ; Pertamax, harga BBM naik, Selat Hormuz, minyak dunia, Pertamina, ekonomi Indonesia, subsidi energi


    © yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik | 

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ⚠️

    Adblock Terdeteksi!

    Untuk tetap menyajikan hasil investigasi jurnalistik dan opini independen secara gratis, situs kami sangat bergantung pada penayangan iklan yang aman. Mohon nonaktifkan pemblokir iklan Anda dan muat ulang halaman ini untuk melanjutkan membaca. Terima kasih atas dukungan Anda terhadap literasi digital.