Minyak US$106 dan Ancaman Pertamax Rp20.000: Siapa Sebenarnya yang Menanggung Selisihnya?
![]() |
| Harga BBM nonsubsidi mengikuti formula pemerintah yang dipengaruhi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah. | Foto : x.com / [@Miskintv_] / CC BY-SA. |
Selisih 36 Dolar yang Tidak Muncul di Papan Harga SPBU
YUDHABJNUGROHO™ - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut angkanya terang-terangan di sebuah forum di Jakarta, Senin lalu. Harga minyak dunia sudah mencapai 106 dolar AS per barel. Rata-rata harga nasional sepanjang Januari hingga September berada di kisaran 85 sampai 90 dolar. Sementara asumsi dalam APBN 2026 hanya 70 dolar per barel.
Bahlil menutup pernyataannya dengan tiga kata yang jujur sekaligus mengkhawatirkan: putar otak lagi.
Selisih antara asumsi dan kenyataan itulah yang menjadi beban fiskal. Ia tidak muncul di papan harga SPBU, tetapi muncul di pos subsidi dan kompensasi energi dalam APBN, yang sumbernya sama dengan anggaran pendidikan, kesehatan, dan transfer ke daerah. Ketika pemerintah berkata harga tidak naik, yang sebenarnya terjadi adalah biaya itu dipindahkan, bukan dihapuskan.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Brent berada di US$104,61 per barel dan WTI di US$100,05. Sepanjang sepekan, Brent menguat 8,7 persen dan WTI 9,4 persen. Kenaikan setajam itu dalam waktu sesingkat itu bukan gejala pasar normal.
📌 Baca Juga : Pertamax Bisa Tembus Rp20.000, Ini Alasan di Balik Ancaman Kenaikan Harga BBM
Pertalite Dijanjikan Rp10.000, Pertamax Sudah Berkeringat
Pemerintah memberi kepastian yang jelas untuk satu jenis BBM. Bahlil menegaskan Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan harga BBM subsidi tidak naik sampai 31 Desember 2026, berapa pun harga dunia. Pertamina Patra Niaga melalui VP Communication Kitty Andhora menyatakan hal serupa: untuk BBM subsidi tidak ada kenaikan hingga akhir tahun, sedangkan jenis BBM umum mengikuti formula yang ditetapkan pemerintah.
Kalimat terakhir itulah yang perlu dibaca ulang dengan pelan. Untuk BBM nonsubsidi, kenaikan sudah terjadi sejak awal September dan sebagian besar orang belum menyadarinya.
Pertamax Green 95 kini Rp19.150 per liter, naik Rp2.500 dari sebelumnya Rp16.600. Dexlite melonjak ke Rp23.700 dari Rp19.700. Pertamina Dex menjadi Rp25.200 dari Rp21.150. Hanya Pertamax yang masih ditahan di Rp15.950, dan Pertamina sendiri mengakui angka itu berpotensi bergerak ke kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 bila tekanan berlanjut.
Dampaknya tidak berhenti di pengendara pribadi. Dexlite dan Pertamina Dex adalah bahan bakar truk logistik dan alat berat. Untuk wilayah seperti Kalimantan yang bergantung pada distribusi darat dan sungai jarak jauh, kenaikan solar nonsubsidi hampir selalu berakhir di harga sembako, ongkos angkut, dan tarif jasa.
Rantai sebab-akibatnya sudah kami petakan sejak awal, ketika eskalasi Israel dan Hizbullah membuat harga BBM Indonesia dag-dig-dug.
📌 Baca Juga : Minyak Dunia Tembus US$107 per Barel Imbas Perang AS-Iran: Sampai Kapan BBM Subsidi RI Bisa Bertahan?
Dari Selat Hormuz ke SPBU Balikpapan
Akar kenaikan ini berada sekitar 7.000 kilometer dari Indonesia. CENTCOM menyatakan hingga 15 September, pasukan AS telah mengubah haluan 103 kapal komersial untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade laut atas pelabuhan Iran. Lalu lintas Selat Hormuz anjlok drastis: hanya empat kapal komoditas tercatat melintas pada 15 September.
Selat itu jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketika ia nyaris kosong, pasar tidak menunggu kelangkaan benar-benar terjadi. Pasar menaikkan harga berdasarkan ketakutan, dan ketakutan bergerak jauh lebih cepat daripada tanker.
Tekanan kedua datang dari arah berlawanan. Rupiah ditutup melemah ke Rp17.694 per dolar AS pada 15 September. Karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah sekaligus produk BBM, pelemahan rupiah berarti harga impor naik dua kali: sekali karena harga dunia, sekali lagi karena kurs. Inilah alasan Pertamina menyebut dua parameter sekaligus, harga minyak dan nilai tukar, dalam setiap pernyataannya.
Tekanan ketiga datang dari Washington. Pasar memperkirakan peluang lebih dari 90 persen The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75 hingga 4,00 persen dalam rapat FOMC 15 sampai 16 September, yang akan mengakhiri penahanan sejak Desember 2025. Bagi Indonesia, suku bunga AS yang lebih tinggi berarti tekanan tambahan pada rupiah dan ruang gerak Bank Indonesia yang makin sempit.
Beban fiskal ini berpindah ke meja yang baru berganti pemilik. Kami mengulas latar belakangnya dalam pencopotan mendadak Purbaya dan naiknya Suahasil Nazara.
Anggota Komisi VI DPR Dewi Juliani meminta pemerintah dan Pertamina menyiapkan mitigasi sejak awal agar gejolak energi global tidak berubah menjadi beban baru bagi masyarakat. Permintaan itu wajar, tetapi rentang pilihannya sempit: naikkan harga dan hadapi inflasi, atau tahan harga dan biarkan defisit membengkak.
Posisi tawar Indonesia di tengah tarik-menarik blok global juga kami bedah lewat lima agenda Indonesia di KTT BRICS 2026 dan untung ruginya bagi rakyat.
📌 Baca Juga : Kapal Virgo Transport 8: Usia 39 Tahun, Aturan Impor 15 Tahun, dan 129 Nyawa yang Belum Ditemukan
Catatan Redaksi
Janji "harga tidak naik sampai 31 Desember" adalah kalimat yang sangat presisi, dan presisi itu sengaja. Tanggalnya ada. Setelahnya tidak dijanjikan apa-apa.
Kita perlu berhenti memperlakukan harga BBM yang ditahan sebagai hadiah. Menahan harga di tengah minyak 106 dolar adalah keputusan yang harus dibayar seseorang, dan dalam APBN yang membayar adalah pos belanja lain yang tidak bersuara di media sosial. Subsidi energi yang membengkak selalu punya pasangan: anggaran daerah yang dipotong, proyek yang ditunda, atau utang yang ditambah.
Maka pertanyaan yang lebih berguna bukan "apakah BBM naik", melainkan "apa yang dikorbankan supaya BBM tidak naik". Pertanyaan itu jarang ditanyakan karena jawabannya tidak muat dalam satu judul berita.
Awasi tanggal 1 Januari 2027. Awasi pula postur transfer ke daerah dalam RAPBN 2027 yang sudah disorot DPD. Keduanya berada di halaman yang sama dalam dokumen yang sama. Menurut Anda, mana yang akan lebih dulu dikorbankan?
Tags ; harga minyak dunia 2026, harga Pertamax hari ini, subsidi BBM Pertalite, APBN 2026, Selat Hormuz, rupiah 17.694, The Fed, Ekonomi, Bisnis
© yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.