Trump Ngamuk ke Netanyahu: "Kamu Gila, Semua Orang Benci Israel!" — Retaknya Dua Sekutu Lama di Tengah Api Timur Tengah
![]() |
| Presiden AS Donald Trump marah terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon pada 1 Juni 2026. | Foto: Wikimedia Commons / [The White House] / CC BY-SA. |
YUDHABJNUGROHO™ – Dalam sebuah percakapan telepon yang bocor ke media, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meledak marah kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kata-katanya tidak main-main:
"Kamu benar-benar gila. Kamu sudah membusuk di penjara kalau bukan karena aku. Aku yang menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang — semua orang membenci Israel karena hal ini."
Begitulah rangkuman percakapan telepon Senin (1/6/2026) yang dilaporkan media Amerika, Axios, berdasarkan keterangan dua pejabat AS dan satu sumber lainnya. Kalimat itu bukan retorika biasa. Ini adalah tanda bahwa persekutuan terkuat dalam sejarah geopolitik modern — Washington dan Tel Aviv — sedang retak dari dalam.
Pemicunya: Serangan Israel ke Lebanon yang Tak Berhenti
Trump murka bukan tanpa sebab. Militer Israel dalam beberapa hari terakhir terus menggempur wilayah Lebanon, memperluas operasi terhadap kelompok milisi Hizbullah jauh melampaui batas yang dianggap wajar oleh Washington.
Masalahnya, Amerika Serikat tengah berada di meja perundingan yang sangat kritis dengan Iran — membicarakan kemungkinan kesepakatan nuklir. Iran langsung mengancam akan meninggalkan negosiasi jika Israel tidak menghentikan serangan ke Lebanon dan Gaza. Satu langkah gegabah Netanyahu berpotensi menghancurkan bulan-bulan kerja diplomatik Trump.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp18.000: Geopolitik, Dividen, dan Pertaruhan BI yang Belum Tentu Menang
Netanyahu Tak Mundur, Trump Umumkan Gencatan Senjata Sepihak
Setelah telepon panas itu, Trump mengumumkan di platform Truth Social bahwa ia telah meminta Netanyahu membatalkan rencana serangan besar ke Beirut. Trump juga mengklaim pihak Hizbullah bersedia menghentikan serangan ke wilayah Israel sebagai respons.
Namun Netanyahu tidak bergeming. Pemimpin Israel itu menegaskan operasi militer tetap akan berlanjut selama serangan dari Hizbullah tidak berhenti — pernyataan yang ia sampaikan langsung kepada Trump.
Hasilnya: Israel memang menunda serangan ke Beirut atas tekanan Trump. Tapi di hari yang sama, tentara Israel justru menggempur kembali wilayah Lebanon Selatan.
Baca Juga: Hasto PDIP Tuduh Jokowi Ubah Indonesia Jadi Negara Otoriter Populis
Tekanan Domestik: MAGA Mulai Berbalik
Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah tekanan dari dalam kandang Trump sendiri. Sejumlah tokoh konservatif garis keras yang selama ini menjadi sekutu setia Trump — termasuk Tucker Carlson dan Marjorie Taylor Greene — secara terbuka mengkritik keterlibatan AS dalam konflik ini. Mereka menilai kebijakan pro-Israel Trump bertentangan dengan prinsip "America First" yang selama ini menjadi fondasi gerakan MAGA.
Menjelang pemilihan paruh waktu Amerika, tekanan itu bukan sekadar suara pinggiran. Ia adalah ancaman elektoral nyata.
Baca Juga: Lahan Panen Naik, Beras Malah Turun: Ada Apa dengan Ketahanan Pangan Indonesia?
Apa Artinya Bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah bukan sekadar tontonan drama geopolitik. Ketegangan kawasan yang meningkat menekan harga minyak dunia, mengguncang pasar keuangan global, dan memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sudah kian tertekan.
Lebih dari itu, bagi 270 juta penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim, setiap babak baru konflik Israel–Lebanon adalah isu yang menyentuh langsung — emosi, solidaritas, dan opini publik.
Pertanyaan Terbesar: Siapa yang Benar-benar Kendalikan Timur Tengah?
Jika presiden AS paling berkuasa sekalipun tidak bisa menghentikan Netanyahu dengan satu telepon, lalu siapa yang sesungguhnya menentukan nasib kawasan itu? Dan sampai kapan api ini bisa dipadamkan sebelum menjadi perang regional yang lebih besar?
Dunia — termasuk Jakarta — sedang menahan napas.y©
Tags ; Trump, Netanyahu, Israel, Lebanon, Timur Tengah, Hizbullah, Iran, Geopolitik, Internasional, Perang, Gaza, AS

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.