647F5F21FF8A94FEDFCF33E1A4118844 Cadangan Devisa Indonesia Menyusut ke USD144,9 Miliar — Alarm atau Aman? - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Cadangan Devisa Indonesia Menyusut ke USD144,9 Miliar — Alarm atau Aman?

    Gedung pusat Bank Indonesia di Jakarta. BI mencatat cadangan devisa nasional menyusut USD1,3 miliar sepanjang Mei 2026. | Foto : Wikipedia Indonesia / [Rochelimit] / CC BY-SA.

    YUDHABJNUGROHO™
     – Angka itu tidak berbohong. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2026 tercatat USD144,9 miliar — turun USD1,3 miliar dari posisi April 2026 sebesar USD146,2 miliar. Ini bukan sekadar penurunan biasa: angka tersebut merupakan level terendah sejak Juni 2024.

    Di saat rupiah masih bergulat di kisaran Rp18.200 per dolar AS, penurunan cadangan devisa tiga bulan berturut-turut sejak Maret 2026 memunculkan satu pertanyaan mendesak — seberapa kuat benteng pertahanan ekonomi kita sesungguhnya?


    Tiga Bulan Terus Menyusut

    Data BI menunjukkan tren yang patut dicermati. Cadangan devisa tercatat USD148,2 miliar di Maret 2026, lalu turun ke USD146,2 miliar pada April, dan kini kembali melorot ke USD144,9 miliar di Mei. Artinya, dalam tiga bulan, Indonesia kehilangan lebih dari USD3,3 miliar dari pundi-pundi devisa nasionalnya.

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut penurunan ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama: pembayaran utang luar negeri pemerintah, intervensi pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah, serta permintaan valas musiman dari domestik. Penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak disebut sebagai faktor penyeimbang di sisi lain.


    📌 Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000: Siapa yang Menangis, Siapa yang Pesta?


    Masih Aman — Tapi Sampai Kapan?

    BI menegaskan posisi cadangan devisa saat ini masih dalam kategori kuat, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor— jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya mensyaratkan tiga bulan. Skor metrik ARA (Assessing Reserve Adequacy) Indonesia juga diklaim masih di atas batas bawah aman 100.

    Namun pasar berpikir berbeda. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia dilaporkan menyentuh level terendah hampir 20 tahun per awal Juni 2026. Investor asing juga memangkas kepemilikan saham domestik ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

    Sinyal itu sulit diabaikan.


    📌 Baca Juga: Dolar Ekspor Batubara dan Sawit Wajib Parkir di Bank BUMN: Untung atau Buntung bagi Pengusaha?


    DHE SDA: Harapan yang Belum Terbukti

    Pemerintah sebenarnya tidak diam. Sejak 1 Juni 2026, aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) resmi berlaku — mewajibkan eksportir SDA merepatriasi 100% devisa hasil ekspor ke perbankan dalam negeri, khususnya bank Himbara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan memproyeksikan rupiah bisa menguat drastis ke kisaran Rp15.000 jika kebijakan ini berjalan optimal.

    Tapi efeknya belum tampak. Ekonom mengingatkan bahwa kebijakan DHE butuh waktu untuk menunjukkan hasil. Dan sementara menunggu hasil itu, cadangan devisa terus terkikis oleh intervensi BI di pasar valuta asing yang tidak murah.

    Pertanyaan kritis pun mengemuka: apakah BI sedang membakar tabungan nasional untuk menopang rupiah secara artifisial, sementara masalah struktural belum tersentuh?


    📌 Baca Juga: IHSG Terjun Bebas ke Level Terendah 5 Tahun, Sinyal Darurat atau Kepanikan Sesaat?


    Garis Bawah

    Cadangan devisa USD144,9 miliar secara teknis masih aman. Namun tren penurunan tiga bulan berturut-turut, dikombinasikan dengan keluarnya investor asing, rupiah yang melemah, dan spekulasi pergantian Menteri Keuangan, membentuk sebuah gambaran yang tidak bisa dianggap enteng.

    Pemerintah dan BI punya pekerjaan rumah besar: meyakinkan pasar bahwa fundamental ekonomi Indonesia bukan sekadar klaim di podium konferensi pers.


    Tags ; cadangan devisa, Bank Indonesia, rupiah, ekonomi Indonesia, devisa, IHSG, utang luar negeri, stabilitas ekonomi, BI, keuangan negara

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad