Empat Kali ke Paris dalam 19 Bulan: Apa yang Sebenarnya Sedang Dibangun Prabowo di Prancis?
![]() |
| Istana Élysée, kediaman resmi Presiden Prancis di Paris. Presiden Prabowo Subianto diagendakan bertemu Presiden Emmanuel Macron di sini dalam kunjungan kenegaraan keempatnya ke Prancis, Mei 2026. | Foto: Wikimedia Commons / [U.S. Department of State from United States] / CC BY-SA |
YUDHABJNUGROHO™ – Rabu pagi, 27 Mei 2026. Saat jutaan warga Indonesia salat Idul Adha di lapangan terbuka dan halaman masjid, Presiden Prabowo Subianto melaksanakan salat Ied di Wisma KBRI Paris — ribuan kilometer dari tanah air.
Ini bukan sekadar momen seremonial. Ini adalah kunjungan keempat Prabowo ke Prancis sejak dilantik sebagai presiden: Juli 2025, Januari 2026, April 2026, dan kini Mei 2026. Rata-rata hampir satu kali setiap lima bulan.
Pertanyaan yang wajar pun mencuat: ada apa sebenarnya di Paris yang membuat presiden kita begitu sering ke sana?
Dari Courtesy Call Menuju "Comprehensive Strategic Partnership"
Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi bahwa agenda utama kunjungan ini adalah pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Keduanya dijadwalkan mengumumkan peningkatan hubungan bilateral menuju Comprehensive Strategic Partnership — sebuah status kemitraan yang lebih tinggi dan mengikat dari sekadar hubungan diplomatik biasa.
Dua bidang yang menjadi fokus utama: energi dan pertahanan.
Energi — di tengah transisi global menuju energi bersih, Prancis dengan keahlian nuklir sipilnya adalah mitra strategis yang sangat relevan bagi Indonesia yang sedang ambisius membangun ketahanan energi nasional.
Pertahanan — hubungan Indonesia–Prancis di sektor ini sudah panjang. Nama Dassault Rafale, kapal selam Scorpène, hingga sistem persenjataan lainnya bukan hal baru dalam perbincangan kedua negara.
Intensitas yang Tidak Biasa — dan Bukan Tanpa Alasan
Empat kunjungan dalam 19 bulan adalah angka yang tidak lazim untuk satu negara tujuan, bahkan bagi presiden yang aktif berdiplomasi sekalipun. Ini bukan sekadar kunjungan rutin mempererat hubungan — ada negosiasi substansial yang sedang berjalan.
Beberapa pengamat politik luar negeri menduga ada tiga agenda besar yang sedang dimatangkan secara paralel: finalisasi kontrak pertahanan skala besar, kerangka kerja sama energi nuklir, dan positioning Indonesia dalam peta geopolitik Eropa yang sedang berubah akibat konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan.
Yang Pulang Harus Membawa Lebih dari Sekadar Foto
Publik Indonesia memiliki ekspektasi yang sederhana tapi jelas: kunjungan ke luar negeri — apalagi yang keempat ke negara yang sama — harus pulang membawa hasil konkret yang bisa dirasakan rakyat.
Bukan hanya siaran pers tentang "sepakat untuk memperkuat kerja sama." Bukan hanya foto jabat tangan di Élysée Palace. Rakyat ingin tahu: kontrak apa yang ditandatangani, investasi berapa yang masuk, dan lapangan kerja mana yang terbuka.
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah empat kali ke Paris adalah investasi diplomasi yang cerdas — atau sekadar perjalanan yang mahal.
_(cropped).webp)
Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.