1.098 Sapi, Rp100 Miliar APBN: Di Balik Kurban Presiden yang Memecahkan Rekor
![]() |
| Sapi jenis Simmental, salah satu ras unggulan yang termasuk dalam spesifikasi pengadaan sapi kurban Presiden Prabowo Subianto pada Iduladha 2026. | Foto: Wikimedia Commons / [CosyCobra] / CC BY-SA |
YUDHABJNUGROHO™ – Saat sebagian besar warga masih bersiap menuju lapangan sholat Id, sebuah angka diam-diam beredar dan memantik perdebatan: Rp100 miliar uang negara dibelanjakan untuk membeli 1.098 ekor sapi kurban atas nama Presiden Prabowo Subianto.
Bukan kurban pribadi dari kantong sendiri. Ini uang rakyat — bersumber dari pos Bantuan Kemasyarakatan Presiden dalam APBN 2026.
Sapi Premium, Bukan Sapi Biasa
Jangan bayangkan sapi kampung biasa. Spesifikasi teknisnya cukup serius: bobot minimal 800 kilogram hingga maksimal 1,3 ton per ekor, dengan ragam ras unggulan — Simmental, Limousin, Brahman, Angus, Belgian Blue, hingga Charolais. Setiap ekor wajib mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menegaskan seluruh sapi dibeli langsung dari peternak lokal di berbagai daerah, disesuaikan harga dan bobotnya masing-masing.
Siapa yang Menerima?
Distribusinya menjangkau hampir seluruh sudut Indonesia:
· 598 ekor untuk 38 pemerintah provinsi dan 514 kabupaten/kota
· 500 ekor untuk pondok pesantren, lembaga pendidikan, lembaga sosial, tokoh masyarakat, dan tokoh agama
Total, program ini menyasar 552 wilayah di 38 provinsi — skala distribusi terbesar dalam sejarah program kurban presiden.
Rekor, Tapi Bukan Tanpa Polemik
Partai Gerindra bergegas membela kebijakan ini, menegaskan penggunaan APBN untuk kurban presiden bukan hal baru — tradisi serupa sudah berjalan sejak era Presiden SBY dan Jokowi. Mekanismenya legal, berdasar pos Bantuan Kemasyarakatan Presiden yang memiliki dasar hukum sah.
Namun angka Rp100 miliar tetap mengundang tanda tanya publik, terutama di tengah nilai tukar rupiah yang sedang tertekan di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Wajar atau berlebihan? Pertanyaan itu masih menggantung di ruang publik.
Kurban Negara atau Pencitraan Negara?
Di satu sisi, program ini bisa dibaca sebagai upaya nyata mendorong produktivitas peternak lokal sekaligus memastikan daging kurban merata hingga ke pelosok. Di sisi lain, skala dan narasi yang melekat kuat pada nama Presiden membuat batas antara program sosial dan citra politik menjadi tipis.
Yang pasti, Iduladha 1447 H ini tercatat sebagai momen kurban presiden terbesar dalam sejarah pemerintahan modern Indonesia — dengan segala angka dan pertanyaan yang mengikutinya.y©
Baca Juga : Idul Adha Jatuh 27 Mei 2026: Hari Kurban Bertemu "Hari Tongkrongan", Internet Indonesia Heboh
Tags ; sapi kurban presiden, Prabowo Iduladha 2026, APBN kurban, hewan kurban presiden, Iduladha 1447H, kurban nasional

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.