Header Ads

  • Breaking News

    Kendaraan Listrik, Tepatkah Kebijakan Tersebut Saat Ini ?

     

    Sumber: https://bit.ly/3E5w4g1

    Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cenderung ‘dipaksakan’ saat ini, membuat masyarakat mengeluarkan dana yang lebih banyak untuk biaya hidup sehari - hari. Bagaimana tidak, harga BBM ini menjadi harga utama penentu harga kebutuhan pokok lainnya. Jika harga BBM naik, otomatis kebutuhan pokok lainnya pun naik, sembako, transportasi umum, bahkan makanan siap saji.

    Di tengah pro kontra kebijakan ini, entah mengapa Pemerintah tiba – tiba mempromosikan untuk menggunakan kendaraan berbasis listrik. Kendaraan Listrik diklaim lebih menghemat pengeluaran karena sumber energi yang murah dan terjangkau dari BBM lainnya. Untuk mendukung kebijakan ini, pada penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali 15-16 November 2022 ini, pemerintah juga menambah pengadaan mobil dan motor listrik sebagai sarana mobilisasi bagi peserta konferensi dan anggota kepolisian yang bertugas di sana.

    Mungkin kebijakan ini benar, terlebih mempromosikan kebijakan yang ramah lingkungan di tengah isu pencemaran global juga penting. Namun bagi Penulis, kebijakan ini dirasa belum tepat diterapkan di Indonesia untuk saat ini. 

    Kebijakan kendaraan listrik seperti yang telah masif dijalankan beberapa negara di dunia, ini tepat karena fasilitas ketenagalistrikan di sana sudah merata hingga ke pelosok negeri sekalipun, di samping itu suku cadang dan bengkel yang melayani jasa kendaraan listrik pun berlimpah.

    Nah, jika di Indonesia, listrik ini masih bersifat private diranah rumah tangga, belum banyak stasiun pengisian Bahan Bakar Listrik (BBL) yang mudah di jangkau. Belum lagi bengkel – bengkel yang menyediakan suku cadang jika ada kendala mesin. Tak pelak, jika pemakaian kendaraan listrik ini masif di galakkan, Penulis yakin akan terjadi pemborosan kepemilikan kendaraan. 

    Masyarakat tentu akan memiliki 2 jenis kendaraan yang berbeda, kendaraan listrik untuk dipakai jarak pendek, dan kendaraan bermotor digunakan untuk jarak jauh. Karena jika saja kita sedang ada keperluan ke daerah yang fasilitas listriknya agak lebih rendah, tentu kita tidak akan menimbang – nimbang untuk mengambil resiko mogok di jalan, akibat kendala mesin maupun kendala baterai yang habis.

    Hal ini sama seperti wacana akan di lakukan konversi energi dari Kompor berbahan bakar gas (BBG), ke kompor listrik. Banyak yang berpendapat pula akan terjadi pemborosan kepemilikan kompor. Masyarakat kita akrab dengan acara kenduri rumahan, memasak menggunakan kompor listrik yang berbahan kaca, tentu akan menjadi masalah jika kapasitas memasak saat itu menggunakan panci atau dandang berukuran besar.

    Tujuan untuk efisien, akhirnya malah sebaliknya, pemborosan, hal ini yang tidak pernah dibahas pada gencar – gencarnya promosi bahan bakar listrik.

    Ingat, langka atau mahalnya BBM tidak serta merta masyarakat langsung esoknya menjual motor atau mobilnya dan membeli kendaraan listrik atau malah memilih bersepeda. Tetap saja kendaraan bermotortetap akan digunakan, karena itu sudah menjadi kebutuhan primer.

    Penulis ingat ada yang berkomentar bodoh dimasa - masa awal kenaikan harga BBM dahulu, yang intinya begini;

    “Pom Bensin tetap saja ramai, saat BBM sudah naik, ini menunjukkan masyarakat Indonesia sudah mampu”.

     

    Entah konsep berpikir mana yang dia anut.

    ----------------

    Schrijver.

    Copyright. ©. 2022. Yudha BJ Nugroho. All Right Reserved.

     

    No comments

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad