Menteri Agama : Seseorang Good Looking Berpotensi Radikal, Termasuk Hafidz atau yang Pandai Berbahasa Arab - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Menteri Agama : Seseorang Good Looking Berpotensi Radikal, Termasuk Hafidz atau yang Pandai Berbahasa Arab



        Pernyataan kontroversial kembali terucap dari seorang Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, dalam sebuah pertemuan disuatu masa. Rekaman penyataan beliau pun seketika membuat publik merasa tersinggung, terlebih bagi para akademisi yang berkecimpung di dunia pesantren.
        Bukan hal mengejutkan sebenarnya, sebuah pernyataan dari seorang Menag di era pemerintahan Presiden Joko Widodo periode ke dua ini menimbulkan kegegeran publik. Diawal penunjukannya saat menjadi khatib di Khutbah Jumat, materi ceramahnya pun pernah menjadi trending topik media massa.
    Menteri Agama, Fachrul Razi. Ilustrasi. Sumber : https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2020/09/04/menteri-radikalisme-5f51f295d541df33e0148a32.jpg

        Entah apa yang membuat Pak Menag mengeluarkan pernyataan ini. Memang benar, beliau yang berlatar belakang militer sengaja ditunjuk oleh presiden untuk fokus menangani paham radikal yang (katanya) saat ini sedang menghantui kancah perpolitikan dalam negeri. Meskipun ada pula yang meragukan kecakapan beliau sebagai Menag, karena bukan berlatar belakang ulama.


         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">


        Sebagai mana kita tarik kebelakang, figur Menag selalu diidentikkan dengan ulama yang cakap. Kendati Menag bukan hanya mengepalai bidang islam saja, namun kepemimpinan Menag ulama atas Bimbingan Masyarakat (Bimas) yang ada di Kementerian Agama selalu mendapat tempat tersendiri.
        Perlu diluruskan pula, sejak era kemerdekaan hingga sekarang Menag selalu beragama islam, begitupun presiden, meskipun negara ini menganut sistem pemerintahan demokrasi yang sangat terbuka dalam setiap latar belakang seseorang untuk menjadi pemimpin.
        Kaitannya dengan pernyataan kontroversial beliau, Komisi VIII selaku Alat Kelengkapan Dewan yang juga membawahi Kementerian Agama, telah memanggil Menag untuk menjelaskan duduk perkara kasus ini. Sekalipun Menag dicecar mengenai pernyataan nya, ia pun berdalih yang secara garis besar seperti ini,
        “saya tidak menyangka jika pernyataan saya akan sampai ke ranah nasional, karena saat itu saya berbicara dalam forum internal ASN (Aparatur Sipil Negara), untuk konsumsi internal”
        Penulis memandang Menag ini berusaha mengelak tuduhan, jika saja Penulis dalam posisi anggota Komisi VIII, Penulis akan menanggapi,


         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">


        “bapak itu Menteri Agama, mau dalam forum internal, eksternal, bahkan dalam lingkup keluarga sendiri pun, bapak tidak boleh berucap seperti itu, tinggalkan pandangan subjektif pribadi, jika bapak masih memakai nama Menteri Agama di pundak bapak. Seorang pejabat publik jangan gegabah mengeluarkan statement, karena segala tidak tanduknya akan menjadi cerminan bagi rakyat banyak”.
        -----------------
        Schrijver.
        Copyright. ©. 2020. Yudha BJ Nugroho. All Right Reserved.
        Subscribe.

    No comments

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad