Header Ads

  • Breaking News

    Karhutla Mereda, Banjir dan Longsor Mengintai: Waspada Musim Hujan November 2026

    Siapkah kita menghadapi banjir dan longsor di lahan yang baru saja hangus, atau justru bersiap mengulang kelalaian yang sama?.
    | Foto : x.com / [@SINDOnews] / CC BY-SA.

    Berbulan-bulan Kalimantan menunggu hujan, kini hujan datang. Tetapi tanah bekas terbakar tak lagi sama, dan BMKG memperingatkan jarak antara awal musim hujan dan puncaknya sangat singkat. Siapkah kita menghadapi banjir dan longsor di lahan yang baru saja hangus, atau justru bersiap mengulang kelalaian yang sama?


    Hujan Pertama Setelah Kemarau Panjang, Asap Mulai Menipis

    YUDHABJNUGROHO™ - Sabtu sore, 24 Oktober, hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah terdampak karhutla, dan keesokan paginya kabut di Palembang menipis. BMKG memprakirakan peluang hujan meningkat pada 26 hingga 29 Oktober di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Untuk wilayah prioritas karhutla, curah hujan juga diperkirakan naik sejak awal November.

    Lega ini belum akhir cerita. BNPB mencatat kebakaran di enam provinsi prioritas mencapai 129.899,59 hektare hingga 12 Oktober. Asapnya memicu 283.270 kasus ISPA dan mengganggu 2.458 penerbangan, bahkan merembet ke meja diplomasi, sebagaimana kami bedah dalam Satgas Asap RI-Singapura: Di Balik Pertemuan Prabowo dan Vivian.


    📌 Baca Juga : Serangan AS ke Iran Usai Pemilu Sela: Dampaknya ke BBM dan APBN


    Kapan Musim Hujan 2026 Dimulai? Peta BMKG yang Mundur dari Normal

    Menurut BMKG, 185 zona musim atau sekitar 24,66 persen daratan Indonesia masuk musim hujan pada November, disusul 266 zona musim pada Desember. Di 529 zona musim, atau 61,08 persen daratan, awal musim hujan datang lebih lambat dari rata-rata klimatologi. Kata kuncinya bukan telat, melainkan rapat: periode antara awal musim hujan dan puncaknya pendek, sehingga lonjakan curah hujan berpotensi memicu banjir dan tanah longsor.

    Tahun lalu, hujan sangat deras pada November hingga Desember yang diperparah Siklon Senyar memicu banjir dan longsor. Pola serupa tak bisa dikesampingkan.


    Mengapa Bekas Karhutla Rawan Banjir dan Longsor

    Secara hidrologi, lahan yang vegetasinya hangus kehilangan penahan air alami. Tanah terbuka lebih mudah tergerus, sedangkan gambut yang mengering umumnya sulit menyerap air pada hujan pertama. Hujan deras di lahan seperti itu mengalir cepat ke sungai, membawa abu, lumpur, dan sedimen. Prinsip ini lazim dikemukakan dalam kajian lingkungan.

    Ada ironi tambahan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan, gambut bisa terbakar lagi bila semua pihak lengah sebelum hujan benar-benar turun. Dua ancaman bersaing di satu bentang alam: api yang belum mati dan air yang datang tiba-tiba. Penegakan hukum bagi korporasi pembakar lahan pernah kami telusuri, baca juga di kanal Hukum.


    📌 Baca Juga : Karhutla Bencana Nasional? Angka 639 Hektare Tak Cerita Semuanya


    Daerah Rawan Banjir dan Longsor November 2026: Peringatan untuk Kalimantan Selatan

    BMKG mengingatkan sebagian Kalimantan Selatan mulai memasuki musim hujan pada November, sementara sebagian besar wilayah lainnya pada Desember, dengan waktu yang dekat ke puncak musim hujan. Menhut menyebut hujan di Kalsel baru turun pertengahan November. Di sisi lain, BPBD Kalsel mencatat 12,3 ribu hektare lahan terbakar hingga awal September, dan status siaga darurat karhutla provinsi itu semula berlaku sampai 31 Oktober. Kalimantan Barat masih berstatus siaga darurat bencana asap hingga 15 November.

    Artinya, status darurat api akan berganti tanpa jeda menjadi kewaspadaan terhadap air. Kronologi isu lingkungan di Kalimantan dapat Anda telusuri di kanal Nasional kami.


    Daftar Cek Siaga Banjir dan Longsor untuk Warga dan Pemda

    Beberapa langkah sederhana layak dikerjakan sekarang:

    1. Pantau peringatan dini cuaca BMKG di ponsel dan laporkan saluran air yang tersumbat.

    2. Kenali jalur evakuasi dan titik kumpul, terutama di dekat lereng gundul dan bantaran sungai.

    3. Siapkan tas siaga berisi dokumen, obat, senter, dan makanan tahan lama.

    4. Bagi pemda, petakan titik rawan di bekas lahan terbakar dan aktifkan posko sebelum hujan puncak.


    📌 Baca Juga : Satgas Asap RI-Singapura: Di Balik Pertemuan Prabowo dan Vivian


    Catatan Redaksi

    Bencana di negeri ini jarang datang sendirian; ia bergilir. Kemarau mengundang api, api menyisakan tanah rapuh, dan hujan menagih sisanya. Bila pemulihan gambut, penegakan hukum, dan peringatan dini hanya bergerak ketika kamera datang, kita sedang menyiapkan bencana berikutnya dengan tangan sendiri.

    Kita mungkin berbeda pandangan soal siapa yang paling salah. Namun sulit membantah satu hal: mencegah selalu lebih murah daripada memulihkan. Setujukah Anda bahwa kesiapsiagaan musim hujan harus dimulai hari ini, bukan setelah air masuk rumah? Bagikan pengalaman wilayah Anda di kolom komentar.


    Tags : Nasional, Karhutla, Musim Hujan 2026, Banjir dan Longsor, BMKG, Kalimantan Selatan, Bencana Hidrometeorologi, Peringatan Dini


    © yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik | 

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ⚠️

    Adblock Terdeteksi!

    Untuk tetap menyajikan hasil investigasi jurnalistik dan opini independen secara gratis, situs kami sangat bergantung pada penayangan iklan yang aman. Mohon nonaktifkan pemblokir iklan Anda dan muat ulang halaman ini untuk melanjutkan membaca. Terima kasih atas dukungan Anda terhadap literasi digital.