Harga Minyak Tembus US$106 Usai Trump Tolak Iran: Dampak Selat Hormuz ke BBM dan Rupiah
Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Brent Tembus US$106 per Barel
YUDHABJNUGROHO™ - Pasar minyak bereaksi cepat pada Senin (28/9/2026), tepat ketika Asia membuka perdagangan. Mengutip CNBC, minyak Brent naik 1,8 persen ke US$106,31 per barel, sedangkan WTI berada di US$93,62. Pemicunya, Presiden Donald Trump menolak tawaran bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir. Menurut BBC, Trump menilai Teheran ingin cepat berdamai karena berada di posisi terdesak. Laporan Wall Street Journal menambah bahan bakar: Trump disebut memperkirakan serangan AS ke Iran berlanjut setelah pemilu sela November. Bagi pasar, pesan itu jelas: ketidakpastian pasokan belum akan usai dalam waktu dekat. Investor tak hanya menghitung barel yang tersedia hari ini, tetapi juga probabilitas eskalasi militer di bulan-bulan berikutnya, dan probabilitas itulah yang kini ikut dibayar dalam harga.
📌 Baca Juga : Sanksi Maskapai Iran 2026: AS Setop Penerbangan Global, RI Ikut Terguncang?
Apa Tawaran Iran soal Pembukaan Selat Hormuz dan Mengapa Ditolak
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menawarkan pembukaan Selat Hormuz dalam tujuh hari dan dimulainya lagi perundingan, asalkan Washington memenuhi sejumlah syarat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut syarat itu mencakup penghentian tindakan yang mereka sebut agresi, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pembebasan aset Iran. Trump menolak paket itu. Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengaku mencegat sejumlah proyektil yang diluncurkan Houthi, kelompok yang didukung Iran. Artinya, jalur pelayaran tidak hanya terancam di Hormuz, tetapi juga di Laut Merah. Ketegangan energi kini beroperasi di dua pintu sekaligus. Pola ini pernah berulang: setiap kali jalur energi terganggu, negara pengimpor bersih seperti Indonesia menjadi yang paling cepat merasakan tekanan pada neraca dan nilai tukarnya.
📌 Baca Juga : Trump Longgarkan Standar BBM AS di Tengah Krisis Solar Global: Apa Dampaknya ke Kantong Rakyat Indonesia?
Dampak Selat Hormuz ke Harga BBM Indonesia: Dari Minyak Mentah sampai Pompa
Bagaimana konflik ini sampai ke tangki kendaraan Anda? Jalurnya panjang tetapi nyata. Harga minyak mentah yang naik mengerek biaya impor minyak dan BBM. Untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian harga dapat mengikuti pergerakan minyak. Untuk BBM subsidi, negara menanggung selisihnya lewat APBN. Data Faktual Indonesia mencatat harga minyak bertahan di atas US$90 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70. Dengan Brent di US$106, selisihnya kira-kira 50 persen. Dalam penelusuran kami hari ini, belum ditemukan pengumuman resmi kenaikan harga BBM, tetapi tekanan fiskalnya sudah terasa. Ada tiga jalur transmisi yang perlu dicermati pembaca. Pertama, harga impor: minyak mentah dan BBM diperdagangkan dalam dolar, sehingga kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah bekerja sebagai pukulan ganda. Kedua, subsidi: selisih antara harga keekonomian dan harga jual harus ditutup negara, yang berarti ruang belanja lain menyempit. Ketiga, harga barang: ongkos angkut yang naik akhirnya menetes ke harga pangan dan kebutuhan harian. Konteks kebijakan energi Washington juga relevan, sebagaimana kami bahas di Trump Longgarkan Standar BBM AS di Tengah Krisis Solar Global.
Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan: Efek Berantai ke Pasar Keuangan
Rupiah melemah 0,42 persen ke Rp17.978 per dolar AS, seiring melemahnya mayoritas mata uang Asia. Phintraco Sekuritas mengaitkan pelemahan IHSG, salah satunya, dengan kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah. Investor.id memproyeksikan IHSG menguji support 6.000 sampai 6.100 pada Selasa. Namun ketelitian perlu dijaga. Pada 28 September, IHSG ditutup di 6.147,86 setelah turun 1,51 persen, dan penyebab utamanya adalah penerapan aturan baru batas harga minimum saham, sebagaimana kami ulas di BEI Hapus Batas Harga Saham Rp50. Minyak dan rupiah adalah beban tambahan, bukan satu-satunya pemicu. Di sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75 persen, sementara inflasi tahunan Agustus tercatat 3,19 persen, sehingga ruang pelonggaran kian sempit.
Ekspor Timur Tengah Pulih, tapi Pasar Tetap Cemas dan Anggaran 2027 Menunggu
Ada paradoks yang jarang dibicarakan. Data awal Kpler menunjukkan ekspor minyak Timur Tengah sekitar 12,8 juta barel per hari pada September, tertinggi sejak perang dimulai Februari. Pasokan mulai pulih, tetapi harga tetap tinggi karena pasar menimbang risiko berikutnya. Laporan EIA pada Juni mencatat produsen Timur Tengah memangkas produksi lebih dari 11 juta barel per hari dan persediaan negara OECD turun ke level terendah sejak 2003. Sementara itu, DPR dijadwalkan mengesahkan RUU APBN 2027 hari ini dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS. Selisihnya dengan kurs pasar kemarin sekitar Rp478. Untuk membaca arah geopolitik yang membentuk harga energi, arsip kami di kanal Internasional dapat menjadi rujukan.
📌 Baca Juga : Sindiran Tajam Presiden Suriah ke Trump: "Kasih Saja New Jersey ke Israel, Bukan Golan"
Catatan Redaksi
Kita cenderung menganggap Selat Hormuz sebagai urusan negara lain, padahal harga minyaknya ikut menentukan ongkos logistik, tarif transportasi, hingga cicilan yang kita bayar. Pemerintah punya pekerjaan rumah: menjelaskan secara terbuka seberapa jauh subsidi energi sanggup menahan lonjakan harga, dan siapa yang pertama menanggung bila daya tahannya habis. Kita sebagai warga perlu bertanya lebih jauh. Apakah asumsi APBN yang dipatok jauh di bawah harga pasar masih layak disebut realistis? Redaksi berpendapat, transparansi adalah bentuk penghormatan pada rakyat, terutama ketika keputusan energi menyentuh kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan harga: pengendara ojek, pedagang kecil, dan keluarga berpenghasilan pas-pasan. Setujukah Anda? Sampaikan pendapat di kolom komentar dan bagikan tulisan ini kepada mereka yang perlu bersiap, sebab informasi yang jernih adalah bekal pertama menghadapi harga yang bergejolak.
Tags ; Internasional, Bisnis, Selat Hormuz, Harga Minyak, BBM,
Rupiah, Trump, Iran, APBN© yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.