Trump Klaim Damai dengan Iran — tapi Opsi Nuklir Pernah Ada di Meja
![]() |
| Selat Hormuz dilihat dari citra satelit. Jalur strategis ini menjadi salah satu poin utama negosiasi gencatan senjata AS-Iran 2026. | Foto : Wikipedia Commons / [NASA] / CC BY-SA. |
YUDHABJNUGROHO™ – Di permukaan, kabar baiknya terdengar nyata: Trump mengklaim kesepakatan dengan Iran sudah "disetujui secara tertulis" dan penandatanganan bisa terjadi dalam hitungan hari. Tapi di balik layar, jurnalis investigatif peraih Pulitzer Seymour Hersh mengungkap sesuatu yang jauh lebih gelap — bahwa presiden Amerika Serikat pernah mempertanyakan apakah penggunaan senjata nuklir untuk mengakhiri perang ini adalah sesuatu yang "bisa dilakukan."
Dua kenyataan itu hidup berdampingan hari ini, Sabtu 13 Juni 2026.
Dari Perang ke Meja Perundingan: Kronologi Empat Bulan Neraka
Perang AS-Iran dimulai 28 Februari 2026 — sebuah serangan udara bersama AS dan Israel yang menarget fasilitas militer dan nuklir Iran. Setelah serangkaian serangan dan balasan yang berdarah, Pakistan menjadi mediator dan berhasil menegosiasikan gencatan senjata dua minggu pada awal April. Gencatan senjata itu berkali-kali diuji dan nyaris runtuh.
Kini, kesepakatan yang mendekati finalisasi melibatkan perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan Selat Hormuz, kebebasan Iran menjual minyak, dan negosiasi lanjutan tentang pembatasan program nuklir Teheran. Sebuah kemajuan yang nyata — jika benar-benar terwujud.
📌 Baca Juga: Chatib Basri dan Purbaya Dirumorkan Tukar Kursi: Sinyal Reshuffle Ekonomi Prabowo?
Trump "Fake News", Iran "Tidak Pernah Lebih Dekat"
Masalahnya, jalan menuju penandatanganan masih penuh lubang. Ketika media negara Iran mempublikasikan dugaan syarat-syarat kesepakatan, Trump langsung menyebut laporan itu sebagai "fake news" yang "tidak ada hubungannya dengan apa yang sudah disepakati secara tertulis," sambil menyebut Iran sebagai pihak yang tidak beritikad baik.
Namun di saat bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa "Memorandum of Understanding Islamabad" menuju gencatan senjata "belum pernah sedekat ini."
Dua narasi yang saling bertolak belakang dari dua pihak yang mengklaim menginginkan hal yang sama: perdamaian. Inilah yang membuat krisis ini jauh lebih sulit dibaca dari sekadar konflik militer biasa.
Yang Paling Mengejutkan: Hersh dan Pertanyaan Nuklir Trump
Di tengah drama negosiasi itu, Hersh — jurnalis yang pernah membongkar pembantaian My Lai dan penjara Abu Ghraib — menulis di Substack-nya sesuatu yang membuat dunia terdiam. Dalam sebuah pertemuan rahasia di Gedung Putih, Trump mulai berspekulasi, meski secara samar, tentang opsi nuklir yang mungkin bisa membawa perang ini ke ujungnya lebih cepat.
Pembicaraan berpusat pada serangan terhadap fasilitas produksi rudal bawah tanah Iran, dan dalam diskusi itu Trump bertanya apakah penggunaan senjata nuklir untuk menghancurkan sebagian fasilitas tersebut "bisa dilakukan." Hersh menulis bahwa setidaknya satu peserta pertemuan terkejut menyaksikan seorang presiden Amerika berbicara begitu santai tentang kemungkinan memulai perang nuklir di Timur Tengah.
Hersh sendiri menambahkan konteks penting: ini baru sekadar obrolan internal antara presiden yang frustrasi dengan staf seniornya, bukan keputusan operasional. Tapi ketika yang mengucapkannya adalah presiden Amerika Serikat, bahkan "obrolan samar" pun memiliki bobot yang berbeda.
📌 Baca Juga: MBG Dipangkas Rp67 Triliun di Tengah Badai Korupsi: Program Prabowo Sedang Ujian Terberat
Mengapa Ini Penting bagi Indonesia
Selat Hormuz bukan sekadar nama di peta geopolitik. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di sana. Setiap eskalasi di kawasan ini langsung berdampak pada harga minyak dunia — dan harga BBM di SPBU Indonesia.
Rupiah yang sudah tertekan ke level Rp18.000 per dolar AS akan semakin rentan jika perang kembali memanas dan harga minyak melonjak. Indonesia sebagai negara net importer energi punya kepentingan langsung atas stabilitas kawasan Teluk Persia.
Hersh mencatat bahwa Trump sendiri sangat khawatir terhadap anjloknya popularitasnya dan potensi Partai Republik kalah dalam pemilu kongres musim gugur akibat perang yang berlarut-larut — tekanan itu mendorongnya mencari solusi secepat mungkin. Artinya, ada insentif politik domestik yang kuat di balik dorongan Trump untuk menutup kesepakatan.
Pertanyaannya: apakah kesepakatan yang lahir dari kedesakan politik akan cukup kuat bertahan sebagai perdamaian yang sejati?.y©
📌 Baca Juga: Xi Jinping ke Pyongyang Setelah 7 Tahun: 4 Agenda Strategis China-Korut yang Bikin AS Waspada
Perang yang dimulai dengan bom kini mendekati meja perjanjian. Tapi jejak pertanyaan tentang nuklir yang sempat bergaung di ruang bawah tanah Gedung Putih tidak akan mudah dihapus dari ingatan sejarah — sekalipun kesepakatan akhirnya diteken.
.webp)
Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.