Header Ads

  • Breaking News

    12 Tower Roboh, Sumut Gelap 4 Jam Sehari: PLN Bisa Apa?

    Kota Medan dan wilayah sekitarnya di Sumatera Utara terdampak pemadaman listrik bergilir setelah 12 tower transmisi PLN roboh dihantam cuaca ekstrem pada 4 Juni 2026. | Foto : Wikimedia Commons / [Bluesatellite] / CC BY-SA.

    YUDHABJNUGROHO™
     – Satu pekan. Lima kabupaten/kota. Empat jam gelap setiap harinya. Itulah potret Sumatera Utara sejak Kamis malam, 4 Juni 2026 — ketika cuaca ekstrem menghantam jaringan listrik vital milik PLN dan memporak-porandakan infrastruktur yang seharusnya menjadi tulang punggung kehidupan jutaan warga.

    Penyebabnya bukan sabotase, bukan pula kelalaian biasa. Hujan lebat disertai angin kencang menumbangkan 12 tower transmisi PLN di Sumatera Utara pada pukul 20.03 WIB. Yang paling parah: tower T18, T19, dan T20 roboh total, sementara T17 dan T21 membengkok pada jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Galang–Simangkuk — urat nadi pasokan listrik ke Kota Medan.


    📌 Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Menyusut ke USD144,9 Miliar — Alarm atau Aman?


    PLN Kerja 24 Jam, tapi Warga Sudah Lelah Menunggu

    PLN mengakui dampaknya nyata. Lima wilayah terdampak: Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat. Pemadaman berlangsung 3–4 jam per periode, satu hingga dua kali sehari. Manajer Komunikasi PLN UID Sumatera Utara, Darma Saputra, menegaskan seluruh personel bekerja 24 jam dengan menurunkan tim teknis dari Pulau Jawa untuk mempercepat proses.

    Target perbaikan Tower Emergency ditetapkan pada 14 Juni 2026 — dengan syarat cuaca dan akses lapangan berjalan sesuai rencana. Sebuah klausul yang terdengar klise di telinga warga yang sudah sepekan numpang mandi di rumah tetangga karena pompa air tak bisa menyala.


    📌 Baca Juga: BI Rate Naik Lagi ke 5,5%: Rupiah Masih Rp18.000-an, Cicilan KPR Aman atau Bahaya?


    Bobby Nasution Tegur PLN: "Harus Ada Kompensasi"

    Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution tak tinggal diam. Ia langsung meninjau Kantor PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Sumbagut di Medan dan secara terbuka menegur manajemen PLN. "Masyarakat sudah mengeluh. Mereka merugi, terutama pengusaha kecil yang mengandalkan listrik," tegas Bobby. Gubernur juga mendorong PLN untuk transparan menyampaikan informasi kepada publik dan memastikan ada kompensasi bagi masyarakat terdampak.

    Teguran Bobby bukan tanpa alasan. UMKM kecil, warung makan, hingga pengguna sumur bor adalah kelompok yang paling terpukul — mereka tidak punya genset cadangan, tidak punya pilihan selain menunggu.


    📌 Baca Juga: Kursi Menkeu Guncang Istana: Budi Gunadi dan Chatib Basri Dipanggil Prabowo, Reshuffle Kembali Membayangi?


    Infrastruktur Rapuh di Tengah Tekanan Ekonomi

    Yang lebih mengkhawatirkan: ini bukan insiden pertama. Hanya beberapa pekan sebelumnya, pada 22 Mei 2026, blackout massal melanda sejumlah wilayah Sumatera akibat gangguan serupa di jalur transmisi 275 kV di Jambi. Pola yang berulang ini memunculkan pertanyaan serius: seberapa tangguh infrastruktur kelistrikan nasional Indonesia menghadapi tekanan cuaca ekstrem yang kian sering terjadi?

    Di tengah rupiah yang tertekan, harga BBM yang baru saja naik, dan daya beli yang makin terkikis — listrik mati berulang bukan sekadar gangguan teknis. Ini adalah beban tambahan yang ditanggung warga paling bawah, sementara perbaikan tower masih berhitung dengan faktor cuaca.

    PLN boleh bekerja 24 jam. Tapi sebelum 14 Juni tiba, jutaan warga Sumatera Utara masih harus menyiapkan lilin.


    Tags ; PLN, Pemadaman Listrik, Sumatera Utara, Medan, Blackout, Nasional, Infrastruktur, Energi, Bobby Nasution, SUTET, Bisnis, Ekonomi 

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad