Header Ads

  • Breaking News

    PM Inggris ke-7 dalam 10 Tahun: Apa yang Sebenarnya Menjatuhkan Keir Starmer?

    Ilustrasi sidang parlemen dan suasana politik Inggris. Foto bersifat ilustratif umum, bukan dokumentasi peristiwa spesifik yang dibahas dalam artikel. | Foto : BBC.com / [UK Parliament] / CC BY-SA.

    Dua tahun lalu, ia mengakhiri 14 tahun kekuasaan Partai Konservatif dengan kemenangan telak. Senin kemarin, Keir Starmer berdiri di depan Downing Street dengan suara bergetar, mengakui partainya sendiri tak lagi percaya padanya. Inggris kini menanti pemimpin ketujuh dalam satu dekade.


    Kejatuhan dari Puncak Euforia

    YUDHABJNUGROHO™ - Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh sekaligus Perdana Menteri Inggris pada Senin, 22 Juni 2026. "Setiap keputusan yang saya ambil adalah untuk mengutamakan negara yang saya cintai. Itulah mengapa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh," ucapnya di depan Downing Street, sebagaimana dilansir Reuters dan AFP.

    Ia menyebut telah berbicara langsung dengan Raja Charles III untuk menyampaikan keputusannya, dan berjanji memastikan transisi kekuasaan berjalan tertib hingga pemimpin baru terpilih. Proses pemilihan pemimpin baru Partai Buruh dijadwalkan dimulai 1 Juli, dengan target Inggris memiliki PM baru pada September.

    Yang membuat momen ini terasa berat secara simbolis: dua tahun lalu, kemenangan Starmer dalam pemilu 2024 adalah hasil terbaik Partai Buruh dalam lebih dari dua dekade, mengakhiri 14 tahun pemerintahan Konservatif. Kini, masa bulan madunya berakhir jauh lebih cepat dari yang dibayangkan siapa pun.


    Rangkaian Skandal yang Tak Kunjung Henti

    Kejatuhan Starmer bukan terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari serangkaian keputusan kontroversial. Salah satu pukulan terbesar datang dari penunjukan tokoh senior Partai Buruh, Peter Mandelson, sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat — meski Mandelson diketahui memiliki hubungan dekat dengan mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Dokumen resmi pemerintah kemudian mengungkap bahwa Starmer sebenarnya telah diperingatkan soal risiko reputasi ini, namun tetap melanjutkan keputusannya.

    Skandal Mandelson berbuntut panjang: dua staf terdekat Starmer mengundurkan diri, begitu pula pejabat sipil tertinggi di Kementerian Luar Negeri Inggris. Starmer sendiri akhirnya mengakui di hadapan parlemen bahwa penilaiannya saat itu "keliru".

    Di sisi kebijakan domestik, rekam jejak Starmer juga penuh dengan langkah yang dibatalkan di tengah jalan. Pemerintahannya sempat mengumumkan penghapusan bantuan biaya pemanas musim dingin bagi jutaan lansia — kebijakan yang tidak pernah tercantum dalam manifesto kampanye Partai Buruh — sebelum akhirnya dibatalkan setelah mendapat kritik luas. Rencana pajak warisan atas lahan pertanian keluarga juga urung diterapkan, sementara kenaikan pajak penggajian dan upah minimum justru memicu kemarahan kalangan pengusaha.

    Dua menteri kabinet utama turut mengundurkan diri dalam beberapa bulan terakhir: Menteri Kesehatan Wes Streeting bulan lalu, disusul Menteri Pertahanan John Healey yang menuduh Starmer gagal memenuhi janji publik soal pendanaan militer.


    📌 Baca Juga: Gemuruh Piala Dunia Sampai ke Warung Kopi: Bagaimana UMKM Indonesia Ikut 'Bertanding' di Putaran Final 2026


    Ketika Trump Ikut Bersuara

    Di tengah krisis politik domestik, hubungan Starmer dengan Presiden AS Donald Trump turut memburuk. Trump secara terbuka mengkritik kebijakan Inggris yang menolak terlibat penuh dalam konflik melawan Iran. Saat spekulasi pengunduran diri Starmer meningkat sepanjang akhir pekan, Trump bahkan ikut melontarkan komentar pedas: Starmer disebut "gagal total" dalam dua isu krusial — imigrasi dan energi.

    Tekanan elektoral pun semakin nyata. Bulan lalu, Partai Buruh kalah telak dalam pemilihan lokal dan regional di Inggris, Skotlandia, dan Wales, sementara partai sayap kanan Reform UK pimpinan Nigel Farage justru meraih kemenangan bersejarah. Baik Partai Buruh maupun Konservatif kompak kehilangan dukungan ke partai yang telah memimpin berbagai jajak pendapat nasional selama lebih dari setahun terakhir.

    Sosok yang kini paling difavoritkan menggantikan Starmer adalah Andy Burnham, mantan Wali Kota Manchester yang baru memenangkan pemilihan sela untuk kembali ke kursi parlemen — langkah penting yang membuka jalan baginya mengajukan tantangan kepemimpinan. Burnham sebelumnya dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh, namun kali ini dianggap punya daya tarik berbeda: dipandang tidak terlalu dekat dengan elite London yang dibenci pemilih dari kiri maupun kanan.


    📌 Baca Juga: Trump Ancam Serang Iran Lagi, Selat Hormuz Tegang: Pertamax RI di Ujung Tanduk


    Dampak ke Posisi Inggris di Panggung Global

    Kejatuhan Starmer juga datang di saat yang kurang menguntungkan bagi posisi Inggris secara global. Negara ini sedang berada di tengah pusaran krisis Timur Tengah, di mana sikap "setengah hati" Starmer dalam mendukung sekutu-sekutunya dianggap melemahkan posisi diplomatik London. Kritik dari Trump soal isu energi pun bukan tanpa konteks — penolakan pemerintah Starmer untuk membuka kembali eksplorasi minyak laut utara secara penuh dipandang sejumlah pihak sebagai keputusan yang justru memperlambat pemulihan ekonomi domestik di tengah krisis energi global.

    Pendukung sayap kiri dan kanan punya alasan kemarahan yang berbeda, namun berujung sama: ketidakpercayaan. Kelompok progresif menilai Starmer terlalu lamban dan plin-plan dalam menjalankan reformasi sosial yang dijanjikan, sementara kelompok konservatif menilainya gagal menjaga ketertiban di tengah gelombang protes dan isu imigrasi yang memanas sejak akhir 2024.


    Pelajaran dari Kejatuhan yang Cepat

    Yang membuat kasus Starmer menarik untuk direnungkan bukan sekadar soal siapa penggantinya, tapi soal bagaimana kepercayaan publik bisa runtuh begitu cepat meski kemenangan elektoral awalnya begitu meyakinkan. Seorang profesor ilmu politik dari Queen Mary University London menyebut Starmer sebagai sosok yang gagal membangun daya tarik personal di tengah publik, terlepas dari rekam jejak kebijakannya.

    Inggris kini akan mencatatkan rekor kelam: tujuh perdana menteri dalam satu dekade, sebuah tingkat pergantian kepemimpinan yang jarang ditemui di negara demokrasi maju. Pola ini menimbulkan pertanyaan lebih besar soal stabilitas sistem politik Westminster itu sendiri — apakah krisis kepercayaan ini soal personal Starmer, atau gejala dari sistem yang semakin sulit memuaskan ekspektasi publik yang terus bergeser dalam tempo cepat.


    📌 Baca Juga: Trump Ngamuk ke Netanyahu: "Kamu Gila, Semua Orang Benci Israel!" — Retaknya Dua Sekutu Lama di Tengah Api Timur Tengah


    Catatan Redaksi

    Kisah Starmer adalah pengingat bahwa kemenangan telak di hari pemilu tidak pernah menjadi garansi kepercayaan jangka panjang. Ketika publik merasa dijanjikan perubahan namun mendapati keadaan tak banyak berbeda — atau bahkan memburuk — kemarahan bisa datang dari dua arah sekaligus, kiri dan kanan, dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari yang dibayangkan siapa pun di puncak kekuasaan.


    Tags ; Keir Starmer, PM Inggris, Partai Buruh, Andy Burnham, politik Inggris, krisis kepemimpinan


    © yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad