Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS — Apa yang Diam-diam Terjadi di Dompetmu?
YUDHABJNUGROHO™ – Angka itu pelan-pelan merayap. Rp17.600, lalu Rp17.800, kemudian Rp17.902 — dan para pengamat kini kompak memperingatkan: Rp18.000 tinggal selangkah.
Bukan krisis 1998. Tapi juga bukan sekadar fluktuasi biasa.
Kenapa Rupiah Terus Jatuh?
Pelemahan rupiah bukan lahir dari satu sebab. Ini hasil dari beberapa tekanan yang datang bersamaan.
Di luar negeri, konflik geopolitik di Timur Tengah memperparah situasi. Selat Hormuz — jalur vital ekspor energi dunia — terganggu, mendorong harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$107 per barel, jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang hanya US$70 per barel. Dolar AS menguat sebagai aset aman (safe haven), menekan hampir seluruh mata uang Asia.
Di dalam negeri, gambarannya tak lebih cerah. Surplus perdagangan nonmigas Indonesia menyusut dari US$13 miliar pada kuartal IV-2025 menjadi US$7,98 miliar pada kuartal I-2026. Sektor modal dan finansial berbalik menjadi defisit US$4,9 miliar — mencerminkan modal asing yang hengkang.
Yang Terasa di Pasar, Bukan di Bursa
Rupiah melemah tidak hanya terasa di layar trader. Efeknya sudah merambat ke pasar tradisional.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Mei 2026 mencatat lonjakan tajam pada komoditas yang bergantung bahan baku impor. Daging sapi kualitas I naik sekitar Rp12.000–Rp15.000 per kilogram dibanding bulan lalu. Harga komponen elektronik dan bahan bangunan ikut terkerek. Biaya produksi dan logistik meningkat karena bahan baku, mesin, serta energi impor menjadi lebih mahal — tekanan itu akhirnya diteruskan ke konsumen.
Bank Indonesia Belum Menyerah
Merespons tekanan ini, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026 — langkah agresif untuk menahan arus keluar modal. Intervensi di pasar valuta asing juga terus dilakukan, termasuk melalui instrumen non-delivery forward (NDF) di pasar global.
Namun pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan belum selesai. "Ada kemungkinan rupiah akan mendekati level Rp18.000. Kemungkinan besar," ujarnya kepada Liputan6.com, Jumat (29/5/2026).
Apa yang Harus Kamu Lakukan?
Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah yang berkepanjangan berarti daya beli tergerus secara perlahan. Cicilan utang berbasis dolar membengkak. Harga barang impor naik. Inflasi merayap.
Pemerintah menjamin harga BBM subsidi — Pertalite dan Biosolar — tidak naik hingga akhir 2026. Tapi untuk kebutuhan lain yang bergantung pada impor, kenaikan harga hampir tak terhindarkan.
Rupiah yang anjlok bukan cuma urusan para ekonom dan trader. Ini soal belanja bulanan, biaya sekolah, dan harga makan siang kamu hari ini.y©
Baca Juga : Rupiah Rp17.700 per Dolar: Bukan Sekadar Angka, Ini yang Diam-diam Terjadi di Dompet Kamu

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.