Ganti Jilbab, Ganti Nama, Palsukan Data: Kronologi Skandal Riset WNI di Denmark yang Mempermalukan Indonesia
YUDHABJNUGROHO™ – Skandal ini tidak muncul tiba-tiba. Jauh sebelum nama Rifaldy Fajar dan Prihantini menjadi trending di media sosial Indonesia, dugaan modus serupa sudah terendus di sebuah konferensi burung raptor di Taiwan pada April 2025.
Peneliti BRIN Oki Hidayat mencatat: delegasi Indonesia yang hadir di konferensi Asian Raptor Research and Conservation Network terkejut menemukan abstrak penelitian dari nama-nama yang sama sekali tidak dikenal. Poster dicetak dalam ukuran A4 — bukan standar A0 — ditempel dua lembar dengan isi identik, dan para penulisnya tidak pernah muncul untuk berdiskusi. Prof. Syartinilia Wijaya dari IPB University bahkan menyatakan tidak pernah mendengar topik riset itu dikerjakan siapapun di bidang tersebut.
Tidak ada yang menindaklanjuti. Setahun kemudian, skandal yang sama meledak jauh lebih besar — kali ini di Kopenhagen.
Modus di Denmark: Ganti Jilbab, Ganti Nametag, Palsukan Dunia
Konferensi ISPPD 2026 berlangsung 17–21 Mei di Kopenhagen, Denmark — forum bergengsi yang mempertemukan ribuan ilmuwan dan dokter ahli pneumonia dari seluruh dunia. Di sinilah Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti Indonesia dari University of Oxford yang hadir langsung, menemukan sesuatu yang tidak beres.
Kelompok peneliti Indonesia itu memamerkan 19 abstrak sekaligus — jumlah yang dinilai tidak masuk akal untuk dihasilkan dalam waktu singkat. Lokasi penelitian yang diklaim mencakup belasan negara, dari Pegunungan Andes Peru hingga Ethiopia dan Nepal, tanpa satu pun kolaborator lokal atau persetujuan etis yang tercantum. Afiliasi yang digunakan — AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation Jakarta — tidak ditemukan keberadaannya di manapun.
Yang paling mencolok: seorang terduga pelaku diduga berganti identitas cukup dengan mengganti jilbab dan nametag saat tampil di sesi presentasi berbeda. Seluruh data riset diduga merupakan fabrikasi berbantuan kecerdasan buatan (AI), tanpa validasi ilmiah apapun.
Motifnya: travel grant — dana perjalanan konferensi yang bisa bernilai jutaan rupiah.
Pemerintah Bergerak, DPR Murka
Kasus ini viral setelah dosen Universitas Udayana Ida Bagus Mandhara Brasika mengunggah temuannya di Threads pada Senin (25/5/2026). Dalam hitungan hari, reaksi datang dari berbagai arah.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan Kemendiktisaintek sedang mendalami kasus ini — termasuk menelusuri status dan afiliasi institusional para pelaku. Berdasarkan informasi awal, mereka disebut bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) turut melakukan investigasi mandiri karena Rifaldy dan Prihantini diduga merupakan alumni kampus tersebut. BRIN menegaskan siap menjatuhkan sanksi berat jika terbukti ada periset yang berafiliasi dengan lembaga mereka.
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menyebut kasus ini merusak marwah akademisi Indonesia di mata dunia.
Lebih dari Sekadar Oknum
Dampaknya tidak berhenti pada individu. Seperti ditegaskan Ida Bagus Mandhara Brasika: "Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan."
Ini bukan soal satu dua orang yang nakal demi jalan-jalan gratis. Ini cermin dari ekosistem riset yang tidak memiliki mekanisme verifikasi ketat terhadap siapa yang boleh membawa nama Indonesia ke forum internasional. Investigasi masih berjalan — dan hasilnya akan menentukan seberapa serius Indonesia merespons.y©
Baca Juga : Rupiah Rp17.700 per Dolar: Bukan Sekadar Angka, Ini yang Diam-diam Terjadi di Dompet Kamu
Tags ; Riset Palsu, WNI Denmark, ISPPD 2026, Skandal Akademik, Pemalsuan Riset, AI, Nasional, Viral
.webp)
Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.