Menyoroti Dugaan Keracunan MBG di Jaktim, Pramono Sebut BGN Tanggung Biaya Perawatan 72 Siswa di 3 Rumah Sakit hingga Penghentian Operasional SPPG Pondok Kelapa 2 - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Menyoroti Dugaan Keracunan MBG di Jaktim, Pramono Sebut BGN Tanggung Biaya Perawatan 72 Siswa di 3 Rumah Sakit hingga Penghentian Operasional SPPG Pondok Kelapa 2

    Dugaan keracunan karena makanan MBG di Jakarta Timur. (Instagram/fenomena.jakarta - TikTok/sppgpondok.kelapa2)

    YUDHABJNUGROHO™
     – Peristiwa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. 

     

    Di media sosial, beredar foto sebuah rumah sakit yang dipenuhi anak-anak sekolah yang terbaring ataupun berada di kursi roda dengan infus di tangan. 

     

    Insiden keracunan ini dilaporkan terjadi di sekolah-sekolah yang mendapatkan bantuan di daerah Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. 

     

    Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga berperan dalam kasus keracunan ini adalah SPPG Pondok Kelapa 2 yang menyediakan makanan pada tanggal 2 April 2026. 

     

    72 anak di Rumah Sakit

     

    Kasus keracunan ini menimpa siswa dari SPPG Pondok Kelapa 2, yang datang dari SMA Negeri 91, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 07, dan SDN Pondok Kelapa 09. 

     

    Sebanyak 72 siswa dirawat di tiga rumah sakit, yaitu RSKD Duren Sawit, RS Pondok Kopi, dan RS Harum. 

     

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa beberapa anak telah diperbolehkan pulang karena tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. 

     

    Siswa Alami Gejala Mual dan Pusing

     

    Kasus keracunan ini terjadi setelah siswa merasakan berbagai gejala usai mengonsumsi menu MBG pada hari Kamis yang lalu. 

     

    “Gejala yang umumnya muncul termasuk demam, mual, muntah, dan diare. Namun, saat ini kondisi para pasien cukup stabil,” ujar Pramono saat memberikan keterangan setelah mengunjungi para siswa di RSKD Duren Sawit pada Sabtu, 4 April 2026. 

     

    “Kami berharap proses penyembuhan dapat berlangsung dalam satu hingga dua hari ke depan sehingga anak-anak bisa kembali beraktivitas,” lanjutnya. 

     

    Makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan adalah menu spageti pada hari tersebut, meskipun pemeriksaan laboratorium masih akan dilakukan. 

     

    “Saya melihat bahwa mayoritas korban diperkirakan terpengaruh oleh makanan spageti. Namun, saya tidak ingin menduga-duga, biarkan laboratorium atau pihak yang berwenang menyampaikan hasilnya secara resmi,” tambahnya. 

     

    Ia menekankan bahwa penyebab yang pasti masih menunggu hasil dari laboratorium. 

     

    Sementara itu, pada hari Kamis, menu MBG yang diberikan terdiri dari sayuran campur, telur orak-arik dengan tahu, stroberi, saus bolognese, tiga bakso, dan spageti. 

     

    Biaya Perawatan Ditanggung BGN

     

    Terkait biaya perawatan bagi korban keracunan MBG ini akan ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN). 

     

    “Kami telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Fokus kami saat ini adalah memastikan semua siswa mendapatkan perawatan yang layak dan keluarga tidak terbebani oleh biaya pengobatan,” jelas Pramono. 

     

    “Semoga proses pemulihan bisa selesai dalam satu atau dua hari,” tambahnya. 

     

    Operasional SPPG Pondok Kelapa 2 Dihentikan

     

    Untuk mengatasi insiden keracunan ini, operasional SPPG Pondok Kelapa 2 dihentikan sementara dan akan dilakukan evaluasi. 

     

    Meskipun SPPG tersebut sedang dihentikan, BGN tetap menawarkan alternatif SPPG lain agar distribusi MBG di sekolah-sekolah penerima bantuan tetap bisa berjalan seperti biasanya.y©

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad