Mengapa Harus Membenci Tiongkok / China ? - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Mengapa Harus Membenci Tiongkok / China ?


    Oleh : Schrijver
         Sentimen anti Tiongkok dewasa ini begitu mengakar dibeberapa kelompok masyarakat di Indonesia. Entah karena alasan politik, atau masalah pribadi. Kebencian ini bukan hanya pada warga pendatang Tiongkok, atau negara Tirai Bambu saja, namun keturunan Tionghoa yang moyangnya telah menetap di Indonesia sejak zaman dahulu pun, terkena imbasnya.
         Motif politik diduga mendominasi dalam tumbuhnya kebencian ini. Disaat masyarakat Indonesia banyak yang kesulitan mencari pekerjaan, pemerintah malah menyetujui kerjasama investasi dengan Tiongkok yang mensyaratkan pekerjanya harus dari negeri mereka.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

         Seiring berjalannya waktu, kebencian ini semakin bertambah, banyak pesan berantai bergulir dimasyarakat ditengah mudahnya segala informasi menyebar hanya dengan bantuan telunjuk. Padahal pesan tersebut entah benar atau tidaknya, diterima mentah – mentah dan diyakini suatu kebenaran.
    Gambar 1 : Warga Keturunan Tionghoa Merayakan Imlek di salah satu Klenteng di Kebumen (Sumber : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRSp5DjuCucwLiD__hICLiaeQMllsdypaBV1-xSihDu_taeNCkE)

         Tiongkok yang kita kenal selama ini memang sebuah negara berideologi komunis besar dengan masa lalunya yang berupa Imperium Kekaisaran yang melegenda. Republik Rakyat China adalah pemerintahan resmi yang saat ini berada di kawasan Kekaisaran Tiongkok, meskipun diakhir masa pemerintahan kekaisaran, justru pegiat Republik Tiongkoklah yang lebih dahulu memerintah, yang saat ini mereka tergeser oleh loyalis komunis dan menetap di Pulau Taiwan.
         Sebenarnya Suku Tionghoa sendiri sudah mendiami wilayah nusantara sejak era kerajaan lokal hingga era Pemerintah Hindia Belanda, karena pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang merupakan dua Kerajaan besar, telah menjalin hubungan bilateral dengan kekaisaran Tiongkok, begitupula sampai dengan era Kerajaan Islam.
         Para perantau dan pedagang suku Tionghoa pun diterima baik oleh penguasa kerajaan di Nusantara, serta hidup membaur dengan masyarakat lokal, mengikuti kebiasaan dan adat istiadatnya. Bahkan Wali Songo yang kita kenal di buku sejarah sekolah dasar sebagai ulama penyebar agama islam di tanah Jawa, sebagiannya ada yang berasal dari suku Tionghoa.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

         Tidak pernah ada sama sekali kecemburuan atau sifat penolakan dari masyarakat lokal nusantara terhadap suku Tionghoa, mungkin ada namun itu tidak membesar.
         Sentimen negatif terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia sebenarnya bermula saat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membuat kebijakan pemukiman. Pemerintah Hindia Belanda mengalami kekhawatiran terhadap intrik dan gejolak perlawanan dari masyarakat lokal yang hidup membaur dengan pedagang dan warga keturunan Tionghoa maupun Arab.
         Disamping itu Keturunan Tionghoa dan Arab ini mempunyai ‘keahlian’ lebih dalam hal berdagang dan membuka usaha, sehingga kecenderungan ekonomi mereka lebih mapan.
         Kemapanan mereka inilah yang membuat Pemerintah Hindia Belanda khawatir mereka akan membangkitkan perlawanan dengan masyarakat lokal. Hingga pada akhirnya dibuatlah pengelompokan pemukiman berdasarkan tiga strata, Pertama Belanda totok atau Indo, kedua Timur Asing, dan ketiga Pribumi.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

         Timur Asing merupakan golongan yang terdiri atas keturunan Tionghoa, Arab, atau bangsa lainnya yang masih berasal dari Asia. Sehingga sampai saat ini pemukiman mereka masih bisa kita jumpai di kota – kota besar, Kampung China atau lebih dikenal Pecinan, juga Kampung Arab. Seperti contoh pecinan Kampung Ketandan di Kota Yogyakarta, dan Kampung Arab di Pasar Kliwon Kota Solo.
    Gambar 2 : Kampung Ketandan Yogyakarta, begitu nampak dengan gapuranya yang menonjol di Jalan Malioboro (Sumber : https://statik.tempo.co/data/2019/02/11/id_818862/818862_720.jpg)

         Dengan dibuat pengelompokan golongan ini, Pemerintah Hindia Belanda lebih mudah memantau mereka, bahkan dalam suatu artikel, Penulis pernah mendapatkan literatur jika Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan surat izin bagi warga Tionghoa jika ingin keluar dari area pecinan mereka. Padahal hanya untuk berbelanja.
         Namun pengelompokan ini akhirnya mendatangkan sikap jauh bagi masyarakat lokal. Dahulu masyarakat lokal begitu dekatnya dengan keturunan pendatang, semakin lambat laun, generasi berikutnya akhirnya semakin memudar.
         Generasi berikutnya hanya memandang jika keturunan Tionghoa atau Arab, hidup lebih mapan, lebih nyaman dan lebih baik, sebagai warga kelas dua dibawah Belanda. Sehingga mereka kerap kali menjadi sasaran kejahatan dari masyarakat lokal yang menjadi perampok atau pencuri.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

         Dari kacamata Keturunan Timur Asing pun begitu, masyarakat lokal dipandang sebagai warga dengan  tingkat kejahatan yang tinggi. Semakin hilanglah kedekatan harmoni antara masyarakat pribumi dan Timur Asing, yang terus – menerus mengakar sampai generasi saat ini.
         Padahal dimasa Revolusi Fisik negeri ini, cukup banyak keturunan Tionghoa yang ikut andil dalam perjuangan. Bahkan saat ini adapula perwira TNI/Polri yang berasal dari keturunan Tionghoa. Mereka menjadi bagian dari negeri ini tentunya sudah lahir batin, tidak lagi memandang negera nenek moyangnya. Jika ditanya apakah mereka berniat untuk melakukan kudeta, Penulis memastikan pasti jawabannya TIDAK.
         Beberapa waktu lalu, Negara Malaysia mengangkat Perdana Menteri (PM) baru bernama Tan Muhyiddin Yasin, yang setelah ditilik ternyata ia adalah keturunan Bugis. Pemberitaan media di Indonesia begitu heboh yang bernada ‘kebanggaan’, bahwa Malaysia mengangkat PM keturunan Indonesia.
         Apakah kebanggaan itu berguna untuk saat ini, tidak. Bapak Yasin tentulah saat ini akan sepenuhnya memerintah lahir batin untuk Negara Malaysia, tidak lagi memandang Bugis atau Indonesia sebagai asal nenek moyangnya. Apakah beliau berniat untuk Kudeta dan menggulingkan pemerintahan Malaysia dari dalam ?. ya pasti tidak.
         Berharap apa sih bagi media begitu heboh membanggakan keturunan Indonesia ini ?.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

         Sekarang kasusnya dibalik.
         Jika masyarakat Indonesia bangga, ada warga keturunan Indonesia yang memimpin Malaysia, padahal beliau sudah sangat lahir batin memikirkan Negaranya saat ini, maka apakah sikap masyarakat Indonesia benar, begitu membenci warga Keturunan dari luar Indonesia memerintah negeri ini?.
         Inilah yang menjadi sulitnya masyarakat Indonesia berpikir logis.
         Ada sebuah pepatah Arab, atau dalam suatu pendapat dikatakan sebagai Hadist berbunyi demikian, “Tuntutlah Ilmu, Walaupun Sampai Ke Negeri China”. Jika ditelusuri pepatah ini telah lahir dimasa – masa jauh sebelum generasi saat ini lahir. Pasti ada maksud dan tujuan mengapa pepatah tersebut muncul.
         Atas dasar inilah, Penulis memberikan pandangan, tidak perlu sampai sebenci itu pada masyarakat Keturunan Tionghoa.
         Saat ini yang perlu diperbaiki adalah pola pikir, dari kacamata warga Keturunan Timur Asing, dan juga kacamata masyarakat lokal. Mungkin tidaklah instan, apalagi ditengah kondisi politik saat ini, terlepas dari pandangan negara Tiongkok yang berideologi komunis.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

    Namun apa salahnya dicoba untuk memperbaiki, kesenjangan dan kesalahan, dari kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang akhirnya terus – menerus mengakar dan berdampak pada paradigma masyarakat Indonesia modern.
    ------------------------
    Schrijver.
    Penulis.
    Yudha BJ Nugroho.
    Copyright. 2020.

    No comments

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad