Kalimantan Tercekik Asap, 1.487 Titik Api Menyala: Ketika Bencana Tahunan Ini Dibiarkan Berulang
![]() |
| Petugas gabungan berupaya memadamkan api di lahan gambut Kubu Raya, Kalimantan Barat, 11 Agustus 2026. | Foto : x.com / [@Antaranews] / CC BY-SA. |
Angka yang Terus Membengkak Setiap Hari
YUDHABJNUGROHO™ - Berdasarkan pemantauan satelit NOAA-20 per 20 Agustus 2026, tercatat 1.487 titik panas tersebar di seluruh Pulau Kalimantan. Kalimantan Tengah mencatat konsentrasi tertinggi dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik, sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing 74 titik. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas — di lapangan, ia berubah menjadi udara yang tak lagi layak dihirup.
Di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, tercatat 10,65 hektare lahan hangus terbakar pada 19 Agustus 2026. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini menegaskan bahwa ancaman karhutla kini merata di hampir seluruh provinsi Kalimantan, tidak lagi terbatas pada Kalteng dan Kalbar yang selama ini jadi sorotan utama.
Yang lebih mengkhawatirkan, luas lahan terbakar di Kalimantan Barat saja telah mencapai 28.680,47 hektare berdasarkan data Kementerian Kehutanan dan BPBD Kalbar — sebuah angka yang terus bertambah seiring status siaga darurat yang diperpanjang hingga September 2026.
📌 Baca Juga : BI Tahan Suku Bunga 5,75% Tiga Bulan Berturut, Rupiah Sebenarnya Bertahan dari Apa?
Ketika Udara Berubah Jadi Ancaman Kesehatan
Di Palangka Raya, kualitas udara sempat menyentuh level 487 pada indeks AQI — kategori berbahaya yang jauh melampaui ambang batas aman. Konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru bahkan mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, hampir satu setengah kali lipat dari ambang kategori berbahaya sebesar 250,5 mikrogram.
Dampaknya terasa nyata pada tubuh warga. Di Kalimantan Tengah saja, 2.052 warga tercatat mengalami ISPA hanya dalam satu pekan, dengan Palangka Raya menyumbang 12.394 kasus. Sembilan pasien bahkan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat gangguan pernapasan berat. Anak-anak sekolah terpaksa menyesuaikan jam belajar, sementara warga dewasa mengeluhkan mata perih dan sesak napas setiap kali beraktivitas di luar rumah.
Dampak tak berhenti di darat. Sedikitnya 12 penerbangan tertunda akibat jarak pandang yang memburuk, dan asap dari Kalimantan Barat bahkan telah menyeberang hingga Sarawak, Malaysia — terpapar selama 11 hari berturut-turut, menurut pemantauan Greenpeace Indonesia periode 11–16 Agustus 2026.
Fenomena ini erat kaitannya dengan tekanan ekonomi rumah tangga yang juga tengah kami bahas dalam laporan mengenai ancaman kenaikan harga BBM non-subsidi yang membebani masyarakat kelas menengah — dua isu yang sama-sama lahir dari krisis tata kelola sumber daya yang belum terselesaikan.
📌 Baca Juga : China Borong 80 Persen Minyak Iran, AS Cuma Berani Gertak Kilang Kecil di Shandong: Sanksi Setengah Hati?
Akar Masalah yang Tak Pernah Benar-benar Dicabut
Greenpeace Indonesia mencatat bahwa dari 592 titik sumber asap yang terdeteksi di Kalimantan periode 11–16 Agustus 2026, mayoritas atau 455 titik berada di kawasan ekosistem lahan gambut — zona yang secara alami sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan begitu api menembus lapisan bawah tanah. Sekitar 20 persen wilayah Kalimantan Barat sendiri merupakan kawasan gambut, yang jika dikeringkan untuk pembukaan lahan pertanian atau perkebunan, akan berubah menjadi bahan bakar raksasa begitu musim kemarau tiba.
Pemerintah pusat, melalui Kementerian Kehutanan dan BNPB, telah mengerahkan 12.880 personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, hingga relawan untuk operasi pemadaman darat dan patroli terpadu. Operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan turut dijadwalkan berlangsung 23–27 Agustus 2026 di Kalimantan Barat. Namun pertanyaannya tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya: mengapa respons besar-besaran ini baru muncul setelah asap benar-benar mengepung, bukan sebagai langkah pencegahan sejak awal musim kemarau?
Greenpeace secara terbuka mendesak pemerintah mengubah pendekatan dari respons pemadaman reaktif menuju perbaikan tata kelola air dan pemulihan kawasan gambut yang rusak secara sistematis — sebuah seruan yang, sayangnya, terdengar familiar setiap Agustus datang.
Isu tata kelola sumber daya alam yang berulang ini juga tak lepas dari sorotan terhadap dugaan penyimpangan anggaran program pemerintah yang justru menyedot perhatian publik ketimbang mitigasi bencana, sebagaimana pernah kami ulas dalam liputan investigatif sebelumnya.
Ketika Bencana Musiman Jadi Rutinitas Tahunan
Yang membuat karhutla Kalimantan 2026 berbeda dari sekadar bencana alam biasa adalah pola pengulangannya yang nyaris identik setiap tahun: titik panas melonjak drastis begitu kemarau puncak tiba, kualitas udara anjlok ke level berbahaya dalam hitungan hari, lalu operasi darurat skala besar dikerahkan — sebelum akhirnya mereda seiring datangnya hujan, dan siklus yang sama terulang tahun berikutnya.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan titik panas di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan melonjak lebih dari empat kali lipat hanya dalam sehari pada pertengahan Agustus. Lonjakan secepat ini seharusnya menjadi alarm bagi sistem peringatan dini — namun realitas di lapangan menunjukkan respons pemerintah baru benar-benar masif setelah kabut asap sudah mengepung kota-kota besar.
Pola respons darurat yang datang belakangan ini juga tergambar dalam laporan kami tentang penanganan bencana gempa NTT yang turut menyoroti kecepatan distribusi bantuan pemerintah ke daerah terdampak, menunjukkan tantangan serupa dalam koordinasi krisis berskala nasional.
📌 Baca Juga : Harga Emas Antam Tembus Rekor Rp2,725 Juta, Ini Alasan Sebenarnya di Balik Reli yang Tak Berhenti
Catatan Redaksi
Karhutla Kalimantan bukan lagi sekadar bencana alam musiman — ia adalah cermin dari pilihan kebijakan yang terus-menerus reaktif, bukan preventif. Setiap Agustus, warga Kalimantan — termasuk mereka yang tinggal di Kalimantan Timur — kembali menghirup udara yang sama berbahayanya dengan tahun lalu, dan tahun sebelumnya lagi. Pertanyaannya kini kembali ke kita bersama: sampai kapan pola ini akan terus dibiarkan berulang, dan siapa yang sesungguhnya harus bertanggung jawab atas siklus yang tak kunjung diputus ini?
Tags ; karhutla Kalimantan, kabut asap 2026, ISPA Kalimantan, kualitas udara Palangka Raya, Kalimantan Barat, BNPB, kebakaran hutan

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.