Header Ads

  • Breaking News

    Pasar Saham Berpesta, Daya Saing Indonesia Justru Anjlok ke Peringkat Terburuk dalam 5 Tahun

    Suasana kawasan pelabuhan peti kemas sebagai indikator aktivitas perdagangan dan logistik nasional. | Foto : Magnific / [Honeypics] / CC BY-SA.

    Di saat IHSG merayakan kenaikan dan rupiah tersenyum, ada kabar yang nyaris tenggelam dari pemberitaan: peringkat daya saing global Indonesia justru ambruk 21 posisi dalam dua tahun. Pertanyaannya, apakah euforia pasar saham hari ini benar-benar mencerminkan kesehatan ekonomi kita, atau hanya menutupi retakan yang lebih dalam?


    Dari Peringkat 27 ke Posisi Terendah Sejak 2019

    YUDHABJNUGROHO™ - International Institute for Management Development (IMD) yang berbasis di Lausanne, Swiss, baru saja merilis World Competitiveness Ranking (WCR) 2026. Hasilnya tidak menggembirakan: Indonesia kini berada di peringkat ke-48 dari 70 negara dan ekonomi yang dinilai—turun delapan tingkat dari posisi ke-40 pada 2025, dan merosot 21 tingkat dibandingkan pencapaian terbaik sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia di peringkat ke-27 pada 2024.

    Ironisnya, penurunan ini terjadi bukan karena kinerja ekonomi makro Indonesia ambruk. Kinerja Ekonomi (Economic Performance) Indonesia justru relatif stabil di posisi ke-24 selama tiga tahun berturut-turut. Yang anjlok justru tiga pilar lain: Efisiensi Pemerintah, Efisiensi Bisnis, dan Infrastruktur.


    Efisiensi Bisnis Jadi Titik Paling Memalukan

    Jika ada satu angka yang paling mencolok dari laporan ini, itu adalah anjloknya Efisiensi Bisnis (Business Efficiency) dari peringkat 26 pada 2025 menjadi posisi 50 pada 2026—merosot 36 tingkat dibandingkan posisi terbaiknya di peringkat 14 pada 2024.

    Sub-faktor di balik penurunan ini cukup telak: produktivitas dan efisiensi berada di peringkat 53, praktik manajemen di peringkat 55, keuangan di peringkat 51. Artinya, persoalan yang dihadapi Indonesia bukan lagi soal pertumbuhan ekonomi semata, melainkan kemampuan dunia usaha menciptakan nilai tambah, mengelola sumber daya secara efisien, dan menarik pembiayaan yang kompetitif.

    Infrastruktur tidak kalah memprihatinkan. Indonesia bertengger di posisi 58—terendah setidaknya sejak 2019—dengan sub-kategori Kesehatan dan Lingkungan di peringkat 65, serta Pendidikan di peringkat 63. Hanya Infrastruktur Dasar yang masih relatif terhormat di peringkat 42.


    📌 Baca Juga: Rupiah dan IHSG Menguat Bersamaan, tapi Kelegaan Ini Cuma Pinjaman 60 Hari dari Washington


    Posisi Indonesia di Antara Tetangga Sendiri

    Yang membuat hasil ini lebih menyengat adalah perbandingan dengan negara-negara tetangga. Di kawasan Asia-Pasifik yang mencakup 15 ekonomi, Indonesia berada di peringkat 14—hanya satu tingkat di atas Mongolia. Di antara negara ASEAN yang masuk pemeringkatan IMD 2026, Indonesia justru menempati posisi paling bawah.

    Singapura kembali merebut posisi pertama dunia. Malaysia bertengger di peringkat 15, Thailand di peringkat 26, sementara Vietnam yang baru pertama kali masuk pemeringkatan ini langsung melesat ke posisi 27—jauh meninggalkan Indonesia yang justru jalan di tempat dan kini tertatih di posisi 48.

    Direktur IMD World Competitiveness Center, Profesor Arturo Bris, menyoroti bahwa kelemahan struktural Indonesia paling terasa pada infrastruktur teknologi, kesehatan, dan pendidikan—tiga pilar yang sejatinya menjadi penopang ekonomi modern di era digital dan persaingan global yang makin ketat.


    📌 Baca Juga:  Plot Twist Harga Pertamax: Setelah Geger Naik, Kini Bersiap Turun Mulai 1 Juli


    Ketika Kredibilitas Institusi Jadi Mata Uang Baru

    Pernyataan paling tajam dari laporan IMD tahun ini datang dari Bris sendiri: daya saing ekonomi pada 2026 tidak lagi sekadar kontes biaya produksi, skala ekonomi, atau bahkan inovasi. Daya saing kini menjadi kontes mengenai kredibilitas institusi.

    Sebuah negara, menurutnya, tidak menjadi kompetitif karena memiliki lebih banyak regulasi, melainkan ketika pelaku ekonomi percaya bahwa kontrak ditegakkan, keputusan publik dapat ditinjau ulang secara adil, korupsi dibatasi, dan kewenangan administratif dijalankan secara transparan. Ini adalah sindiran halus namun tajam—mengingat dalam periode yang sama, sejumlah skandal korupsi di institusi pemerintahan justru terus mencuat ke publik.

    Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menyatakan penurunan peringkat ini dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap ketegangan geopolitik global. Pemerintah juga membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE) yang akan meneliti lebih lanjut akar masalah penurunan ini.

    Namun publik berhak bertanya: apakah penurunan 21 peringkat dalam dua tahun bisa sepenuhnya dijelaskan oleh faktor eksternal, ataukah ini cermin dari persoalan domestik yang selama ini ditutupi oleh narasi pertumbuhan ekonomi yang terlihat baik-baik saja di permukaan?


    📌 Baca Juga:  Rupiah Tembus Rp18.000: Siapa yang Menangis, Siapa yang Pesta?


    Catatan Redaksi

    Sebuah negara bisa saja memamerkan IHSG yang menguat dan rupiah yang tersenyum dalam satu hari perdagangan, tapi daya saing sejati dibangun dalam hitungan tahun, bukan jam. Ketika institusi kita masih bergumul dengan efisiensi bisnis yang anjlok dan infrastruktur yang tertinggal, pantaskah kita terus berpuas diri dengan angka-angka jangka pendek? Mari jujur menilai: apakah kita sedang membangun daya saing, atau sekadar menunggu giliran krisis berikutnya datang?


    Tags ; daya saing Indonesia, IMD World Competitiveness, peringkat ekonomi, efisiensi bisnis, infrastruktur, ASEAN, investasi


    © yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad