Solar Subsidi Langka 2026: Kuota Sudah Jebol, Harga Tembus Rp17.000/Liter — Siapa yang Salah?
![]() |
| Kelangkaan solar subsidi memicu antrean panjang di berbagai SPBU, terutama di wilayah Kalimantan dan daerah kepulauan. (Sumber: Wikimedia Commons / Domain Publik) |
YUDHABJNUGROHO™ – Tahun baru saja berjalan sekitar 4,5 bulan, tapi kuota solar subsidi nasional sudah jebol. Nelayan antre berjam-jam, sopir truk gigit jari, kapal rakyat berhenti beroperasi — dan di beberapa titik, harga solar yang harusnya Rp6.800 per liter sudah melonjak hampir tiga kali lipat.
Fakta: Kuota Jebol Sejak 1 April
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Selasa, 19 Mei 2026, bahwa realisasi penyaluran solar subsidi hingga 17 Mei 2026 telah melampaui kuota 137 hari sebesar 50.090 kiloliter. Defisit ini bahkan sudah terjadi sejak 1 April 2026.
Secara keseluruhan, kuota solar subsidi sepanjang 2026 ditetapkan sebesar 18,6 juta kiloliter. Hingga pertengahan Mei, sudah terpakai sekitar 37,8 persen dari total kuota tahunan — jauh lebih cepat dari laju normal.
Dampak Nyata: Kapal Rakyat Berhenti, Harga Meledak
Kelangkaan solar subsidi telah melumpuhkan layanan transportasi kapal penumpang dan barang di sejumlah jalur perairan Kalimantan Barat, termasuk rute Teluk Batang–Rasau Jaya dan Padang Tikar–Rasau Jaya.
Bila harga resmi solar subsidi adalah Rp6.800 per liter, di sejumlah titik harga jual dilaporkan mencapai Rp17.000 per liter — hampir tiga kali lipat harga yang seharusnya. Kondisi ini semakin membebani operator kapal rakyat yang sepenuhnya mengandalkan BBM subsidi.
Mengapa Bisa Jebol?
Tiga faktor utama yang disebut para analis menjadi pemicu: konsumsi solar yang melonjak akibat pemulihan ekonomi pasca-Lebaran, potensi penyimpangan distribusi di lapangan, dan tekanan harga minyak dunia yang mendorong oknum beralih ke solar subsidi yang jauh lebih murah.
Pemerintah sebenarnya sudah mengantisipasi ini dengan menerbitkan kebijakan pembatasan pembelian solar subsidi per kendaraan per hari yang berlaku sejak 1 April 2026, sebagai langkah mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pemerintah: Harga Tak Akan Naik, tapi Pengawasan Diperketat
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi jenis Pertalite maupun Biosolar tidak akan naik hingga akhir 2026, meski harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada April 2026 sudah menyentuh US$117,31 per barel dan rupiah melemah tajam. Rri
Namun jaminan harga itu terasa paradoks di lapangan — harga tak naik secara resmi, tapi stoknya habis dan warga terpaksa membeli jauh di atas HET.
Pengusaha angkutan mendesak pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menormalkan distribusi dan memperketat pengawasan agar penyaluran solar subsidi benar-benar tepat sasaran. Pertanyaannya: sudah berapa lama masalah ini dibiarkan bergulir sebelum benar-benar meledak?.y©
Baca Juga : Rehabilitasi Hutan Dengan Seedball, Si Bola Benih Mungil
Tags ; solar subsidi langka, BBM subsidi 2026, kuota solar jebol, BPH Migas, harga solar, Kalimantan, Pertamina, solar Rp17000, energi subsidi

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.