Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita — Suara Papua yang Tak Boleh Dibungkam - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita — Suara Papua yang Tak Boleh Dibungkam

    Diskusi film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale digelar di berbagai kota di Indonesia sebagai ruang pendidikan publik tentang hak masyarakat adat Papua. (Sumber: Foto milik Dandhy Laksono, diambil dari akun Twitter/X @Dandhy_Laksono. Hak cipta milik pemilik akun).

    YUDHABJNUGROHO™
     – Di tengah gegap gempita narasi "ketahanan pangan nasional", sebuah film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita justru memilih berdiri di sisi lain — di sisi masyarakat adat Papua Selatan yang tanahnya perlahan hilang.

    Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah hasil investigasi panjang yang memperlihatkan wajah gelap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi: pembukaan 2,5 juta hektare hutan — setara 37 kali luas Jakarta — atas nama bioetanol, sawit, dan food estate.

     

    Represi Justru Memperkuat Pesan

    Yang ironis, bukan isi filmnya yang paling banyak dibicarakan publik di awal peredarannya — melainkan aksi pembubaran paksa acara nonton bareng di berbagai kota. Dari Yogyakarta hingga Ternate, layar dipadamkan sebelum film selesai diputar.

    Padahal dalam negara demokrasi, cara elegan merespons kritik bukan dengan membubarkan diskusi, melainkan dengan menghadirkan data tandingan, konferensi pers, atau bahkan film serupa. Pembungkaman justru memperkuat kesan bahwa ada sesuatu yang memang ingin disembunyikan.

     

    Bukan Sekadar Isu Lingkungan

    Pesta Babi mengajak kita bertanya lebih dalam: apakah proyek yang mengatasnamakan rakyat ini sungguh untuk rakyat? Ketika jaringan korporasi besar mendominasi konsesi lahan, ketika hutan adat dibabat tanpa konsultasi bermakna, dan ketika militer hadir bukan untuk melindungi warga tetapi mengawal investasi — ini bukan lagi sekadar isu lingkungan. Ini soal keadilan, kedaulatan, dan siapa sesungguhnya yang diundang ke "pesta".

     

    Kekuatan Bukti di Atas Asumsi

    Film ini layak diapresiasi bukan karena ia provokatif, melainkan karena ia berbicara dengan bukti: dokumen konsesi, wawancara lapangan, data kepemilikan perusahaan. Di era di mana narasi mudah digoreng tanpa dasar, Pesta Babi menunjukkan bahwa kritik paling tajam adalah kritik yang berpijak pada fakta.

    Tonton. Diskusikan. Jangan biarkan layarnya dipadamkan lagi.

     

     

    Tags ; Pesta Babi, film dokumenter Papua, PSN Merauke, hutan adat, Dandhy Laksono, deforestasi, masyarakat adat, food estate, lingkungan hidup 

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad