Perang Selat Hormuz & Rupiah Rp17.000-an: Ini Dampaknya untuk BBM, Minyak Goreng, dan Dompet Kamu - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Perang Selat Hormuz & Rupiah Rp17.000-an: Ini Dampaknya untuk BBM, Minyak Goreng, dan Dompet Kamu

     

    Peta Selat Hormuz antara Iran dan Oman jalur minyak dunia yang terdampak konflik AS Iran 2026 (Sumber: Wikimedia Commons)

    YUDHABJNUGROHO™ – Perang yang berkecamuk di ujung teluk jauh sana ternyata tidak hanya urusan Trump dan Iran. Diam-diam, konflik di Selat Hormuz sudah ikut menentukan berapa rupiah yang harus kamu keluarkan untuk mengisi bensin, membeli minyak goreng, bahkan membayar ongkir.


    Apa Itu Selat Hormuz dan Kenapa Sangat Penting?

    Selat Hormuz adalah jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Di sinilah sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melintas setiap harinya — setara 20 juta barel minyak. Sebagian besar mengalir ke Asia, termasuk ke Indonesia.

    Konflik pecah pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Sebagai balasan, Iran menutup selat ini bagi pelayaran komersial. Akibatnya, harga minyak mentah Brent langsung melonjak dari kisaran US$70 hingga menembus US$126 per barel.


    Tiga Kapal Perang AS Diserang, Ketegangan Makin Panas

    Situasi memanas pada 7 Mei 2026 ketika tiga kapal perusak AS — USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason — diserang pasukan Iran menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil saat melintas di Selat Hormuz. Militer AS mengklaim seluruh serangan berhasil dicegat dan tidak ada kapal yang terkena langsung. Namun, pasar langsung bergejolak.

    Kini AS dan Iran masih saling bertukar proposal damai, sementara China ikut menawarkan diri membantu membuka kembali jalur pelayaran. Situasi masih sangat dinamis hingga hari ini.


    Dampak Langsung ke Dompet Rakyat Indonesia

    Indonesia sebagai negara net importir minyak langsung menanggung beban berlapis:

    BBM non-subsidi naik. Pertamina telah menaikkan harga Pertamax Turbo dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter sejak 18 April 2026. Tekanan kenaikan BBM bersubsidi pun terus membayangi.

    APBN tertekan. Asumsi APBN 2026 dipatok di harga minyak US$70 per barel. Setiap kenaikan US$1 per barel di atas angka itu menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Dalam skenario harga minyak US$100–120 per barel, tambahan beban bisa mencapai lebih dari Rp515 triliun.

    Minyak goreng ikut terkerek. Kenaikan harga energi global mendorong harga bahan kemasan plastik naik, yang ujungnya mendongkrak harga minyak goreng di pasaran.

    Rupiah melemah. Ketidakpastian geopolitik memicu investor beralih ke aset aman, menekan rupiah hingga di kisaran Rp17.000-an per dolar AS.


    Apa yang Bisa Kita Lakukan?

    Konflik ini mengingatkan kita betapa rentannya ketahanan energi Indonesia. Cadangan BBM nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar 20 hari — jauh di bawah standar 90 hari yang direkomendasikan IEA. Dalam jangka pendek, pantau terus perkembangan negosiasi damai AS-Iran, karena setiap kesepakatan bisa langsung mempengaruhi harga BBM dan bahan pokok di sekitar kita.

     

     

    Tags ; Selat Hormuz, Perang AS Iran, Harga BBM, Rupiah, Ekonomi Indonesia, Berita Internasional, Harga Minyak Dunia, Pertamina, APBN 2026

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad