647F5F21FF8A94FEDFCF33E1A4118844 IHSG Anjlok 29% Terburuk di Dunia: Bos BEI Mundur, Rupiah Mendekati Rp 18.000 — Indonesia Menuju Resesi? - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    IHSG Anjlok 29% Terburuk di Dunia: Bos BEI Mundur, Rupiah Mendekati Rp 18.000 — Indonesia Menuju Resesi?

    Ilustrasi papan perdagangan saham yang menunjukkan tekanan jual di Bursa Efek Indonesia. Sepanjang Januari–Mei 2026, IHSG tergerus hingga 29,14 persen, menempatkan Indonesia di posisi terbawah indeks saham utama global. | Foto: Wikimedia Commons / [Scott Beale] / CC BY-SA

    YUDHABJNUGROHO™
     – Satu angka yang seharusnya jadi alarm nasional: minus 29,14 persen. Itulah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan hingga akhir Mei 2026 — menjadikan pasar saham Indonesia sebagai yang terburuk performanya di antara indeks utama global. Sebagai perbandingan, S&P 500 Amerika Serikat justru mencatat penguatan hampir 10 persen dalam periode yang sama.

    Ini bukan sekadar urusan para investor kelas atas. Ini cerminan kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia.


    Dari Trading Halt hingga Bos BEI Mundur

    Kisah buruk ini bermula dari Januari 2026. IHSG anjlok lebih dari tujuh persen dalam satu hari, memaksa Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan — trading halt — dua hari berturut-turut. Lembaga pemeringkat global MSCI sebelumnya telah memperingatkan soal minimnya transparansi kepemilikan saham dan rendahnya free float emiten Indonesia.

    Puncaknya, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban moral. Sebuah langkah langka yang justru sedikit menstabilkan pasar — namun tidak menyelesaikan akar masalahnya.


    Pertumbuhan 5,61% vs Realita Pasar

    Pemerintah bangga mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama 2026 — tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Namun ekonom mengingatkan: angka itu ditopang efek musiman Ramadan dan stimulus fiskal sementara, bukan penguatan struktural.

    Di bawah permukaan angka impresif itu, investor asing hengkang besar-besaran. Rupiah tertekan mendekati Rp 17.877 per dolar AS. Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 5,25 persen — sebuah langkah defensif yang memperlambat kredit dan investasi riil.


    Resesi atau Bukan — Yang Pasti Rakyat Merasakan

    Para ekonom sepakat belum menyebut ini resesi. Tapi mereka juga sepakat kondisi saat ini adalah ujian ketahanan struktural paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Ketika saham anjlok, rupiah melemah, dan biaya hidup naik — rakyat biasa tidak butuh definisi teknis. Mereka sudah merasakannya di meja makan.


    Baca Juga : Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS — Apa yang Diam-diam Terjadi di Dompetmu?


    Tags ; IHSG 2026, Pasar Saham Indonesia, Rupiah Melemah, Resesi Indonesia, BEI, Ekonomi Indonesia, Bisnis, Koreksi Saham, Investasi

    Tidak ada komentar

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad