IHSG Anjlok 29% Terburuk di Dunia: Bos BEI Mundur, Rupiah Mendekati Rp 18.000 — Indonesia Menuju Resesi?
YUDHABJNUGROHO™ – Satu angka yang seharusnya jadi alarm nasional: minus 29,14 persen. Itulah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan hingga akhir Mei 2026 — menjadikan pasar saham Indonesia sebagai yang terburuk performanya di antara indeks utama global. Sebagai perbandingan, S&P 500 Amerika Serikat justru mencatat penguatan hampir 10 persen dalam periode yang sama.
Ini bukan sekadar urusan para investor kelas atas. Ini cerminan kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia.
Dari Trading Halt hingga Bos BEI Mundur
Kisah buruk ini bermula dari Januari 2026. IHSG anjlok lebih dari tujuh persen dalam satu hari, memaksa Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan — trading halt — dua hari berturut-turut. Lembaga pemeringkat global MSCI sebelumnya telah memperingatkan soal minimnya transparansi kepemilikan saham dan rendahnya free float emiten Indonesia.
Puncaknya, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban moral. Sebuah langkah langka yang justru sedikit menstabilkan pasar — namun tidak menyelesaikan akar masalahnya.
Pertumbuhan 5,61% vs Realita Pasar
Pemerintah bangga mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama 2026 — tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Namun ekonom mengingatkan: angka itu ditopang efek musiman Ramadan dan stimulus fiskal sementara, bukan penguatan struktural.
Di bawah permukaan angka impresif itu, investor asing hengkang besar-besaran. Rupiah tertekan mendekati Rp 17.877 per dolar AS. Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 5,25 persen — sebuah langkah defensif yang memperlambat kredit dan investasi riil.
Resesi atau Bukan — Yang Pasti Rakyat Merasakan
Para ekonom sepakat belum menyebut ini resesi. Tapi mereka juga sepakat kondisi saat ini adalah ujian ketahanan struktural paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Ketika saham anjlok, rupiah melemah, dan biaya hidup naik — rakyat biasa tidak butuh definisi teknis. Mereka sudah merasakannya di meja makan.y©
Baca Juga : Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS — Apa yang Diam-diam Terjadi di Dompetmu?

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.