Simalakama Pendidikan Angkatan Corona - yudhabjnugroho™

Header Ads

  • Breaking News

    Simalakama Pendidikan Angkatan Corona



        Pandemi Covid 19 praktis mulai memberikan dampak yang super terasa, setelah hampir setengah tahun ‘bersilaturahmi’ ke Indonesia. Banyak lini kehidupan yang dipaksa untuk bertarung dengannya, meskipun pada akhirnya pemerintah menyerah dan mengajukan proposal perdamaian.
        Pemerintah membolehkan Covid 19 tinggal di Indonesia sampai dengan ia bosan sendiri dan pergi. Karena itulah pemerintah mengajak masyarakat untuk hidup berdampingan, senantiasa rukun, dengan cara menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
        Salah satu yang terdampak cukup menonjol adalah dunia pendidikan. Selama setengah tahun sampai tulisan ini dibuat (15 Juni 2020), sekolah – sekolah sampai dengan perguruan tinggi masih tertutup dari kegiatan belajar dan mengajar.
    Beberapa siswa sedang menjalani Ujian Nasional Berbasis Komputer. Ilustrasi. Sumber : https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2019/03/25/118c99f3-9be9-4735-80da-122ae5aa8ea7_169.jpeg?w=700&q=90

        Bukan hanya di Indonesia, seluruh dunia juga menerapkan kebijakan yang sama, dengan durasi yang hampir serupa. Karena dikhawatirkan sekolah dan kampus yang menjadi salah satu titik berkumpul, berakibat sebagai media penularan paling cepat. Mulai siswa TK hingga perguruan tinggi menjalani sistem pembelajaran dari rumah.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

        Menggunakan media internet dan aplikasi meeting online adalah solusi yang paling tepat saat ini. Namun, kegiatan belajar dan mengajar inipun bukan tanpa masalah dan keluhan. Siswa banyak dibebani dengan tugas – tugas yang menumpuk, bahkan jujur saja, pasti tugas – tugas itu kebanyakan yang mengerjakan adalah orang tuanya, karena tidak tega melihat anaknya yang kerepotan.
        Bagi mahasiswa lebih membingungkan lagi, memang kuliah dan tugas bisa melalui media online, namun jika mahasiswa tersebut tingkat akhir dan harus menyelesaikan proses skripsi yang njlimet dan wisuda, akan membuat hidup lebih tidak tenang, ditambah tuntutan umur yang tidak bisa ditunda pertambahannya meskipun ada pandemi Covid 19.
        Angkatan Corona, itulah sebutan saat ini yang sedang populer bagi mereka yang lulus berkat pandemi Covid 19. Mulai dari lulusan TK hingga SMA, di tahun 2020 ini mengalami masa kelulusan tanpa proses seremonial yang mengesankan.
        Sepertinya pandemi ini selaras dengan kebijakan ‘mas’ Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala diakhir tahun 2019 mengeluarkan kebijakan yang mendapat tanggapan pro dan kontra yaitu menghapus Ujian Nasional (UN) dari salah satu tahapan kelulusan siswa.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadhiem Makarim. Ilustrasi. Sumbsr :: https://timlo.net/wp-content/uploads/2020/05/mas-menteri.jpg

        Pandemi Covid 19 langsung memberikan pintu terbuka, dari selentingan – selentingan kontra yang sebelumnya begitu keras menolak penghapusan UN ini. Semuanya jadi satu suara untuk setuju.
        Tapi apakah bisa bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi melalui proses kelulusan seperti ini juga?. Sepertinya agak sedikit sulit penerapannya, karena mahasiswa dituntut untuk melakukan analisa dan penelitian sebagai pembuktian dari status akademisinya dan resmi menyadang gelar, dibelakang atau depan namanya.
        Proses penelitian ini pasti juga sedang terhambat, penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif. Sedangkan seperti dikemukakan Penulis diatas, umur dan tuntutan terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Entah bagi mahasiswa yang berencana bekerja, menikah ataupun meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya.

         style="display:block; text-align:center;"
         data-ad-layout="in-article"
         data-ad-format="fluid"
         data-ad-client="ca-pub-3030644623537642"
         data-ad-slot="6345313352">

        Sepertinya masih panjang proses rekonsiliasi kehidupan dunia pendidikan ditengah telah ditandatanganinya perjanjian perdamaian ini.
        -------------------
        Schrijver.
        Copyright. ©. 2020. Yudha BJ Nugroho. All Right Reserved.
        Subscribe.

    No comments

    Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad