Harga Pertamax Naik? Dampak Serangan Houthi ke BBM Oktober 2026
Brent Tembus US$104: Mengapa Harga Minyak Dunia Naik Lagi?
YUDHABJNUGROHO™ - Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 4 persen pada Kamis, 8 Oktober 2026, ke kisaran US$104–105 per barel, menurut laporan Kontan. Pemicunya berlapis. Serangan terhadap kapal di Teluk dan Selat Hormuz meningkat sepanjang Oktober, sementara stok minyak mentah Amerika Serikat turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel, lebih dalam dari perkiraan analis, seperti dikutip Periskop dari Reuters. JawaPos menambahkan, serangan kelompok Houthi ke fasilitas Aramco di Riyadh kembali memicu alarm krisis energi.
Anehnya, pasokan fisik sebenarnya sudah pulih. Data Kpler yang dikutip Suara.com menunjukkan ekspor minyak Timur Tengah mencapai 22,5 juta barel per hari pada 27–29 September, di atas rata-rata sebelum perang yang 18 juta. Harga tetap mahal karena pasar masih takut perang Amerika–Iran berkobar lagi, ongkos angkut melonjak, cadangan dunia menipis, dan produk olahan seperti solar ikut langka. Pelepasan 100 juta barel cadangan darurat G7 sempat meredam harga, sebagaimana kami urai dalam ulasan G7 dan dampaknya ke BBM serta rupiah, tetapi redamannya kini diuji lonjakan terbaru.
Ada pula faktor yang jarang masuk judul berita. Bernas mencatat serangan ke bandara Jazan dan Najran di Arab Saudi pada 5 Oktober menambah risiko gangguan pasokan, sementara investor.id melaporkan Houthi memperkuat posisi di pesisir Laut Merah dan menguasai Pulau Perim di mulut Laut Merah. Dua urat nadi minyak dunia, Hormuz dan Bab el-Mandeb, kini sama-sama terancam. Bagi pasar, itu skenario terburuk yang sedang dihargai lebih dulu.
📌 Baca Juga : G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat: Apa Dampaknya ke Harga BBM dan Rupiah?
Harga Pertamax Hari Ini Rp15.950: Benarkah BBM Nonsubsidi Akan Naik?
Hingga kini Pertamina Patra Niaga belum mengubah harga. VP Corporate Communication Kitty Andhora menyebut harga Oktober sama dengan September, dengan alasan mempertimbangkan kondisi masyarakat. Pertamax bertahan di Rp15.950 per liter. Namun jangan salah baca: produk lain sudah bergerak lebih dulu. Pertamax Green 95 naik dari Rp16.600 menjadi Rp19.150, Pertamax Turbo kini Rp19.600 dari Rp18.300, dan Pertamina Dex Rp25.200 dari Rp21.150 pada Agustus, menurut Katadata, iNews, dan Bisnis.com. Kenaikan, dengan kata lain, sudah terjadi; ia hanya belum menyentuh produk yang paling banyak dipakai.
Wakil Menteri ESDM Yuliot, seperti dilaporkan Okezone, menegaskan BBM nonsubsidi mengikuti harga pasar. Kalimat itu terdengar teknis, tetapi maknanya politis: ruang menahan Pertamax ditentukan oleh seberapa lama pemerintah dan Pertamina sanggup menunda penyesuaian.
Pertalite Aman sampai Desember, tetapi Siapa Menanggung Selisihnya?
Pemerintah menjamin Pertalite Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan menyebut kabar kenaikan sebagai hoaks, tulis Investortrust. Masalahnya, janji harga tidak menghapus biaya. Suara.com mencatat asumsi minyak dalam APBN 2026 hanya US$76 per barel, sementara Brent kini di atas US$100, selisih lebih dari sepertiga. Selisih itu harus ditambal lewat subsidi dan kompensasi yang membengkak, atau lewat harga yang akhirnya disesuaikan.
Berapa sebenarnya jarak antara harga jual Pertamax dan harga keekonomiannya? Dalam rilis yang kami telusuri, angka itu tidak disebut. Pertanyaannya sederhana, tetapi publik berhak tahu. Ekonom Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah, mengingatkan risiko lain: bila jurang harga terlalu lebar, konsumen berpindah massal ke BBM subsidi dan memperberat kuota. Tekanan serupa sudah terlihat di pasar saham, seperti kami bahas dalam analisis IHSG 6.146, minyak, rupiah, dan cadangan devisa.
Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia ke Rupiah dan APBN
Sebagai importir minyak neto, Indonesia langsung merasakan setiap lonjakan harga. Rupiah ditutup di Rp17.880 per dolar AS pada 7 Oktober, sementara imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke 5,37 persen, tertinggi sejak 2002, dan indeks dolar menyentuh level tertinggi sejak Maret 2025, menurut pembaruan pasar J Trust Bank. IHSG ditutup anjlok 1,88 persen ke 6.031 pada 8 Oktober, kata Rikopedia Research.
Ada kabar pelipur dari Riyadh: Saudi akan memberi diskon US$5 per barel untuk pasar Asia mulai November, terbesar sejak Juni 2020, menurut Reuters yang dikutip Suara.com. Tetapi diskon itu kompensasi atas mahalnya sewa kapal tanker, bukan tanda harga akan turun. Satu kalkulasi layak diingat: harga minyak Indonesia (ICP) periode Agustus tercatat US$89,43 per barel menurut Industry.co.id, jauh di atas asumsi APBN. Jika Brent bertahan di atas US$100 hingga akhir tahun, pemerintah menghadapi dilema klasik, yakni menaikkan harga yang tak populer atau menambah subsidi yang membebani anggaran.
📌 Baca Juga : IHSG Turun ke 6.146: Ini Dampak Minyak, Rupiah, dan Cadev
Apa yang Perlu Dicermati Pekan Ini
Pertama, pengumuman harga Pertamina berikutnya. Kedua, geopolitik. Portal RTM Malaysia melaporkan Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan opsi menyerang sasaran di Iran menjelang pemilu sela AS; kami belum menemukan konfirmasinya dari sumber primer. Ketiga, perilaku kita sendiri. Pertamina meminta masyarakat tidak panic buying, dan antrean panjang justru bisa menciptakan kelangkaan lokal. Rangkaian konflik Teluk ini dapat Anda telusuri di arsip berita Internasional.
📌 Baca Juga : Putusan MK Ijazah Gibran: KPU Dianggap Lalai, Golkar Minta Introspeksi
Catatan Redaksi
Harga yang ditahan bukan harga yang hilang. Ia hanya berpindah: dari struk di SPBU ke neraca Pertamina, ke subsidi APBN, atau ke tahun depan. Kami tidak menyimpulkan Pertamax pasti naik. Yang kami pertanyakan adalah keterbukaan: berapa selisihnya, siapa menanggung, dan sampai kapan. Selama angka itu tertutup, setiap rumor kenaikan akan terasa masuk akal. Pembaca layak mendapat penjelasan sebelum harga berubah, bukan sesudahnya. Menurut Anda, mana yang lebih jujur: harga ditahan dengan biaya tersembunyi, atau disesuaikan dengan penjelasan terbuka?
Tags ; harga pertamax naik, harga BBM hari ini, serangan Houthi, harga minyak dunia, subsidi BBM, Pertalite, APBN 2026, harga Pertamax naik
© yudhabjnugroho™ — Analisis Independen | Ekonomi & Kebijakan Publik |

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar anda.